Dark/Light Mode

Memahami Simbol-Simbol Haji (11)

Maqam Ibrahim

Selasa, 19 Mei 2026 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Maqam dalam bahasa Arab berasal dari akar kata qāma–yaqūmu yang berarti berdiri. Maqam berarti tempat berdiri atau bekas pijakan seseorang. Maqam Ibrahim merupakan salah satu situs penting yang terletak di depan pintu Ka’bah di dalam Masjidil Haram.

Dalam sejarah Islam, Maqam Ibrahim dikenal sebagai batu yang dahulu menjadi tempat berpijak Nabi Ibrahim ketika merenovasi Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail. Ka’bah sendiri diketahui telah mengalami beberapa kali renovasi sejak masa lampau, termasuk setelah peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh yang dikenal sebagai banjir Nuh.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa batu tersebut digunakan sebagai pijakan untuk membangun dinding Ka’bah yang semakin tinggi. Bahkan ada kisah yang menyebutkan batu itu dapat bergerak naik turun seperti lift untuk membantu Nabi Ibrahim menjangkau bagian atas bangunan Ka’bah.

Kisah renovasi Ka’bah pada masa Nabi Ibrahim diabadikan dalam firman Allah:

وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Baca juga : Ka’bah Sebagai Rumah Pembebasan

“Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat” (QS Al-Baqarah [2]: 125).

Ayat ini menunjukkan bahwa Maqam Ibrahim bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga memiliki makna spiritual dan fungsi ritual dalam ibadah umat Islam.

Dalam kitab-kitab tafsir dan buku sejarah Islam dikisahkan bahwa ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintahkan Allah membangun Ka’bah, dinding bangunan semakin tinggi sehingga Nabi Ibrahim memerlukan tempat pijakan untuk menyusun batu-batu pada bagian atas Ka’bah. Saat itulah sebuah batu didatangkan, yang kemudian digunakan sebagai pijakan beliau.

Ketika Nabi Ibrahim berdiri di atasnya, batu itu disebut dapat naik atau turun mengikuti kebutuhan pembangunan.

Karena sering dipijak, bekas kedua telapak kaki Nabi Ibrahim tertinggal pada batu tersebut. Bekas itu hingga kini diyakini masih dapat disaksikan di balik pelindung kaca dan logam berwarna keemasan di samping Ka’bah.

Baca juga : Suasana Kebatinan Di Hadapan Ka’bah

Batu tersebut kini disimpan dalam pelindung kristal dan logam khusus untuk menjaganya.

Pada masa dahulu, bangunan tempat penyimpanan Maqam Ibrahim berbentuk lebih besar dan menempel pada dinding Ka’bah.

Namun, karena dianggap mengganggu jalur thawaf jamaah haji dan umrah, ukurannya kemudian diperkecil dan posisinya sedikit dipisahkan dari dinding Ka’bah.

Bekas telapak kaki pada batu Maqam Ibrahim diyakini masih tampak hingga sekarang, meskipun bentuknya telah mengalami perubahan akibat faktor usia, sentuhan manusia, serta pelapisan pelindung dari masa ke masa.

Pada masa awal Islam, posisi Maqam Ibrahim memang berada sangat dekat dengan Ka’bah.

Baca juga : Asal-Usul Ka’bah

Namun, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, batu tersebut dipindahkan sedikit menjauh agar tersedia ruang yang lebih luas bagi jamaah thawaf. Pemindahan itu tidak dipersoalkan oleh para sahabat.

Para ulama kontemporer pun umumnya tidak mempermasalahkan penggeseran posisi pelindung Maqam Ibrahim selama tetap berada tidak jauh dari tempat asalnya.

Menurut riwayat para mufasir dan ahli sejarah Islam, keberadaan Maqam Ibrahim tidak hanya menjadi bukti sejarah pembangunan Ka’bah, tetapi juga simbol keteguhan, pengabdian, dan perjuangan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 19 Mei 2026 dengan judul "Memahami Simbol-Simbol Haji (11) Maqam Ibrahim"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.