Dark/Light Mode
Memahami Simbol-Simbol Haji (9)
Suasana Kebatinan Di Hadapan Ka’bah
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Di hadapan Ka’bah, kita semua merasakan diri seperti satu keluarga besar. Semuanya merasa kembali ke kampung halaman rohani masing-masing.
Di sana tidak ada lagi sekat etnik, gender, umur, kewarganegaraan, pimpinan dan bawahan, jenderal dan prajurit, tuan dan pembantu, Arab dan non-Arab, Timur dan Barat, hitam dan putih, pendosa maupun ahli ibadah. Di halaman Ka’bah tidak ada lagi atribut sosial, politik, kelas, intelektual, bahkan atribut spiritual-psikologis. Semua merasa sama sebagai “Keluarga Allah”, umat Nabi Muhammad Saw, dan tidak ada lagi istilah “orang lain”.
Persis seperti yang dikatakan Nabi Saw, “Bagaikan satu anggota tubuh; jika satu bagian sakit, maka bagian lainnya ikut merasakan sakit.”
Diharapkan melalui pelaksanaan haji dan umrah, kita menyimpan memori simbolik berupa suasana batin: bagaimana rasanya hadir dan tersungkur di Baitullah, di hadapan Ka’bah, seolah-olah berada di alam yang sangat berbeda dengan alam syahadah yang selama ini menyelimuti kehidupan kita.
Walaupun di sana kita berdesak-desakan karena padatnya jamaah, pada saat yang sama kita juga merasakan kelapangan dada untuk memahami sekaligus memaafkan semuanya.
Meskipun ada di antara mereka yang menyenggol atau bahkan menyakiti tubuh kita, tetap tidak terasa dendam maupun amarah.
Keadaan ini menggambarkan bahwa ketika seseorang sedang bertawajjuh kepada Tuhannya, segala sesuatu terasa lapang tanpa ganjalan dan sumbatan batin.
Karena itu, sebelum menuju hadirat Baitullah, terlebih dahulu kita menanggalkan simbol-simbol keduniaan dan alam syahadah berupa pakaian serta atribut sosial-budaya kita. Yang tersisa hanyalah pakaian ihram berupa kain putih polos yang melekat di badan.
Hal ini juga melambangkan bahwa siapa pun yang ingin mencapai puncak tawajjuh harus menanggalkan atribut keduniawian yang selama ini menghijab dirinya.
Sehubungan dengan itu, menarik untuk menghayati lebih dalam firman Allah Swt:
“Dan dari mana saja engkau keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar suatu kebenaran dari Tuhanmu. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah/2:149)
Semoga seluruh hujjaj dapat menggapai tujuan hakiki dari ibadah haji, yaitu memperoleh predikat Haji Mabrur, haji yang dijanjikan dengan surga jannat al-na‘im, taman spiritual yang penuh kenikmatan.
Haji sebagai arena muktamar umat Islam terbesar di dunia, yang berkumpul di hadapan sebuah bangunan hitam berbentuk kubus, benar-benar menjadi muara sekaligus pusat gravitasi spiritual yang mengikis habis ego individu maupun ego sosial.
Betapa tidak, seluruh umat Islam di mana pun berada dan apa pun status sosialnya, sama-sama harus menghadap kiblat dalam beribadah, terutama dalam shalat. Bahkan dikatakan bahwa tidak sah shalat seseorang apabila tidak mengetahui dan meyakini arah kiblatnya.
Dalam doa iftitah yang dibaca saat memulai shalat, kita mengikrarkan ayat:
“Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin.”
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketulusan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” (QS Al-An‘am/6:79)
Doa iftitah dan penegasan ayat tersebut menekankan pentingnya seluruh dimensi diri kita yang berlapis-lapis ini untuk menghadap (tawajjuh) kepada Allah Swt yang kualitas spiritualnya disimbolkan melalui Ka’bah atau Baitullah. Allahu a‘lam.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 17 Mei 2026 dengan judul "Memahami Simbol-Simbol Haji (9) Suasana Kebatinan Di Hadapan Ka’bah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.