Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Seyyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan Islam senior di George Washington University, pernah mengungkapkan, “Islam is the Islam and an Islam.” Yang dimaksud dengan the Islam adalah konsep nilai yang berisi ajaran ketundukan (islam) kepada Allah SWT. Islam dalam pengertian ini mencakup semua agama yang dibawa oleh para nabi. Dengan demikian, semua nabi, rasul, dan para pengikutnya dapat disebut sebagai muslimun (orang-orang yang tunduk dan berserah diri kepada Allah). Inilah yang dimaksud dalam firman Allah SWT:
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif, seorang muslim (yang berserah diri kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS Ali 'Imran [3]: 67).
Adapun an Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan agama-agama sebelumnya, seperti agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa AS dan agama Nasrani yang dibawa oleh Nabi Isa AS.
Ajaran Islam dalam pengertian an Islam bersumber pada Al-Qur'an dan hadis. Di antara ajaran pokoknya ialah enam Rukun Iman dan lima Rukun Islam.
Baca juga : Dakwah bi Lisan al-Maqal
Adapun agama-agama samawi lainnya memiliki nabi dan kitab sucinya masing-masing. Meskipun berbeda, agama-agama tersebut memiliki titik temu karena sama-sama berasal dari rumpun kenabian Nabi Ibrahim AS. Oleh sebab itu, ketiganya sering disebut sebagai Abrahamic Religions.
Islam adalah agama kemanusiaan yang diturunkan untuk memanusiawikan manusia. Kata Islam berasal dari akar kata sin-lam-mim (salima), yang melahirkan sejumlah kata seperti salam (damai), Islam (kedamaian dan kepasrahan), istislam (penyerahan diri secara total), dan taslim (ketundukan, kepasrahan, serta ketenangan).
Salam mengandung makna kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang umum. Islam mengandung makna kedamaian dan kepasrahan yang lebih khusus karena memiliki seperangkat nilai dan norma yang menjadi pedoman hidup. Adapun istislam menggambarkan penyerahan diri yang lebih total, tegas, cepat, dan sempurna (perfect submission).
Allah SWT menamai agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan nama Islam, bukan salam yang hanya bermakna kedamaian tanpa sistem nilai, dan bukan pula istislam yang lebih menonjolkan ketegasan serta totalitas dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan.
Baca juga : Problem Teknis Dan Substansi Standardisasi Mubalig
Nama Islam sendiri mengisyaratkan jalan tengah (tawassuth), yaitu sikap moderat yang menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali 'Imran [3]: 19).
Dan firman-Nya: “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya.” (QS Ali 'Imran [3]: 85).
Perlu diperhatikan bahwa ayat-ayat tersebut menggunakan kata al-Islam, yaitu dengan alif lam ma'rifah (al-), bukan islam dalam bentuk nakirah, dan bukan pula salam ataupun istislam. Dari sisi kebahasaan, penggunaan al-Islam mengandung makna yang utuh sebagai sistem nilai yang menempuh jalan tengah, moderat, serta menolak segala bentuk kekerasan dan kerusakan. Karena itu, seorang muslim semestinya mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan kepada Allah, yang pada akhirnya melahirkan ketenangan lahir dan batin.
Baca juga : Plus-Minus Standardisasi Mubalig
Akan menjadi kontradiktif apabila panji-panji Islam justru digunakan untuk membenarkan tindakan yang menimbulkan kekacauan dan ketidaknyamanan. Lebih ironis lagi apabila atas nama Islam dilakukan tindakan yang menghilangkan nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Perbuatan seperti itu jelas tidak sejalan dengan makna dasar kata Islam itu sendiri.
Kelompok minoritas muslim liberal cenderung memaknai Islam dalam konteks salam, yakni lebih menekankan aspek inklusif dan substantif. Sebaliknya, kelompok minoritas muslim radikal lebih menekankan makna istislam, yang dipahami sebagai tuntutan akan intensitas, ketegasan, dan semangat yang sangat progresif dalam mewujudkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, arus utama (mainstream) umat Islam memaknai Islam sebagai sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka, inklusif, moderat, dan komprehensif. Kiranya inilah yang dimaksud dengan Islam kaffah. Allahu a'lam.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 6 Agustus 2026 dengan judul "Trend Masa Depan Umat (11) Menghadirkan Islam Kafah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.