Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Pembinaan strategi budaya dalam masyarakat umat tidak bisa ditunda lagi. Ketika bumi terasa semakin kecil dan semakin datar (the world is getting smaller and flatter), laju perkembangan globalisasi dengan sistem nilai yang melekat di dalamnya semakin cepat dan tidak mungkin lagi dibendung.
Di antara sistem nilai yang melekat di dalamnya ialah nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia (HAM), kesetaraan gender, pluralisme, transparansi, serta kebebasan mimbar dan media.
Umat Islam saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, ketika komunitas Muslim masih tersembunyi di dalam sebuah tembok negara atau bangsa. Kini, umat Islam sudah tidak terikat lagi pada suatu negara-bangsa; bahkan, umat Islam seolah-olah sudah tidak memiliki negara (stateless). Konsekuensi globalisasi umat ialah komunitas Muslim harus tunduk kepada dua institusi secara bersamaan. Sebagai warga negara, ia harus tunduk di bawah otoritas negara tempat ia hidup dan berdomisili.
Baca juga : Mencermati Lonjakan Perceraian
Akan tetapi, sebagai seorang Muslim, ia tetap mengharapkan adanya otoritas keumatan untuk mendapatkan bimbingan spiritual sekaligus menyalurkan spiritual charity, seperti zakat mal, institusi perkawinan, dan keimaman.
Untuk mengantisipasi benturan antara “masyarakat umat” yang cenderung tertutup dan stagnan dengan “masyarakat global” yang cenderung terbuka dan progresif, strategi pembinaan budaya umat dan negara perlu segera dirumuskan dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat bangsa Indonesia. Kerja besar dan strategis ini tidak cukup diserahkan kepada salah satu instansi saja, tetapi seluruh stakeholders bangsa ini harus dilibatkan. Semakin besar keterlibatan mereka, semakin tangguh umat dan negara ini.
Termasuk yang perlu diformulasikan kembali ialah strategi budaya dan peradaban Indonesia, sebab bangsa yang besar ialah bangsa yang memiliki strategi budaya dan peradaban serta konsisten menjalankannya.
Meskipun pembinaan budaya dan peradaban harus dianggap sebagai sesuatu yang merupakan on-going process, bangsa ini memerlukan dasar pijakan strategi pengembangan budaya yang diformulasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Hal ini penting demi viabilitas dan sustainabilitas kebudayaan Indonesia sebagai warisan luhur bangsa.
Pertanyaan paling awal yang harus dijawab ketika berbicara tentang pembinaan umat ialah: wujud umat dan masyarakat Indonesia seperti apa yang akan disiapkan di masa depan, tanpa harus mengutak-atik negara Pancasila yang sudah established? Tema ini menjadi sangat penting karena bangsa kita sedang mencanangkan kurikulum baru tahun 2013.
Dari sudut pandang pendidikan, kita dapat beranggapan bahwa wujud masyarakat masa depan dapat dibentuk melalui kurikulum. Dengan kata lain, peran kurikulum sangat penting dalam mempersiapkan umat sebagai warga bangsa masa depan. Tentu saja, kita tidak menafikan peran faktor lain dalam mewujudkan gagasan tersebut.
Baca juga : Jessica Mila , Jawab Tudingan Terobos Pulau Padar
Indonesia memiliki posisi penting dalam mensponsori wacana ini, bukan hanya untuk bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga bagi negara-negara lain. Indonesia bukan hanya merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi juga mampu menampilkan diri sebagai contoh yang dapat memadukan antara “masyarakat umat”, “masyarakat global”, dan “negara modern”, sebagaimana dikatakan oleh Hillary R. Clinton: “If you want to know Islam, democracy, modernity, and women’s rights can coexist, go to Indonesia” (Jika engkau ingin melihat Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak asasi perempuan hidup selaras, maka datanglah ke Indonesia).
Harapan itu juga terungkap langsung oleh Pangeran Ghazy, keluarga dan penasihat senior Raja Abdullah dari Yordania, bahwa Indonesia saat ini paling strategis memerankan diri sebagai negara model yang mampu menyandingkan antara modern state dan Muslim society. Indonesia juga bebas dari pusat konflik konvensional, yaitu kawasan Israel dan Palestina; memiliki penduduk Muslim terbesar; pertumbuhan ekonominya fantastis; potensi dan sumber daya alamnya melimpah; penerapan sistem demokrasinya sudah relatif mapan; serta didukung posisi geografis yang sangat strategis. “Do for the new world!”, katanya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 15 Agustus 2026 dengan judul "Trend Masa Depan Umat (20) Meletakkan Strategi Budaya"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.