Dark/Light Mode
- Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pembinaan Atlet Muda
- Persija Alihkan Fokus ke Persiapan Musim 2026/2027
- Pramono Siapkan 1.000 Mushaf Al-Quran Untuk Peringatan ke 500 Tahun Kota Jakarta
- KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim SAR Evakuasi Penumpang
- Shin Tae-yong Fokus Benahi Fisik dan Taktik Persija
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Umat ideal (khaira ummah) di masa depan semakin sulit diprediksi. Selain kriterianya yang terus berkembang, muncul pula fenomena deterritorialisasi umat. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa umat Islam tidak lagi terkonsentrasi di satu negara saja, tetapi menyebar dan membaur dengan umat-umat lain. Dalam kondisi seperti ini, tentu diperlukan kriteria baru dalam merumuskan konsep khaira ummah.
Kecenderungan pola migrasi umat dalam beberapa waktu terakhir berlangsung sangat cepat dan luas. Perkembangan sains dan teknologi, terutama di sektor transportasi, yang didukung pertumbuhan ekonomi umat yang semakin baik, mengharuskan para pemimpin umat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang mungkin belum pernah ditemukan dalam lintasan sejarah.
Pola migrasi umat selama dua dekade terakhir telah melahirkan wajah baru dunia Islam. Mereka secara besar-besaran melakukan eksodus ke negara-negara maju, seperti di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Selatan. Eksodus tersebut terjadi karena berbagai krisis politik, ekonomi, dan sosial di negara asal, terutama pada era pasca-Arab Spring. Banyak di antara mereka terpaksa hijrah ke negara-negara tujuan yang dapat menampung mereka, untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari lahan kehidupan baru.
Menurut Murad W Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium, fenomena tersebut akan memberikan dampak terhadap hegemoni sosial-politik dunia. Hal ini mengingat Islam merupakan sistem ajaran yang menuntut loyalitas dari para penganutnya.
Baca juga : Akomodatif dengan Kearifan Lokal
Menurut Hofmann, pola migrasi komunitas Islam agak berbeda dengan komunitas lainnya. Secara fisik, komunitas Muslim berada di negara lain, bahkan sudah menjadi warga negara (citizen) atau pemegang green card, tetapi loyalitas terhadap negara asalnya masih tetap tinggi. Hal itu disebabkan oleh ikatan keagamaan yang sangat dominan.
Mereka membayar pajak di negeri barunya, tetapi masih membayar zakat, infak, sedekah, dan berbagai belanja keagamaan lainnya ke negeri asal. Ziarah ke makam leluhur dan guru-guru spiritual juga tetap rutin dilakukan. Sebagian masih membangun rumah di negeri asal, bahkan menginvestasikan dana di sana.
Mereka masih sangat terikat dengan negara asalnya karena hubungan dengan tokoh-tokoh keagamaan karismatik dari negeri asal tetap dijalin. Bahkan, secara periodik, tokoh-tokoh spiritual tersebut didatangkan ke negeri baru untuk memberikan pencerahan.
Migran Muslim di negara-negara Barat kini telah melahirkan generasi kedua dan ketiga. Mereka tetap memegang teguh dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam.
Di mana pun komunitas Islam berada, mereka selalu menciptakan lingkungan sosial yang unik. Mereka memiliki simbol-simbol perekat berupa masjid, makanan halal, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak, dan majelis taklim untuk para orang tua.
Persaudaraan sesama umat Islam, dari mana pun asalnya, juga sangat akrab di negeri baru. Mereka bersama-sama membangun sekolah atau madrasah untuk melestarikan generasi Muslim yang ideal. Mereka juga menjalin komunikasi melalui media sosial sehingga hubungan satu sama lain tetap terjaga.
Keakraban itu terutama terlihat setelah menjalankan ibadah-ibadah ritual, seperti salat Jumat, majelis taklim, kerja bakti, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.
Hari-hari raya keagamaan juga menjadi momentum yang sangat intensif untuk mempertemukan komunitas Muslim. Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, misalnya, sering menjadi ajang pertemuan antarkeluarga Muslim. Mereka melaksanakan salat Id bersama.
Baca juga : Islam Yang Komprehensif
Selama bulan Ramadan, terdapat berbagai kegiatan rutin, seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, sahur, dan tadarus bersama. Di negeri orang, terkadang keakraban satu sama lain justru terasa lebih kuat, sekalipun mereka berasal dari negara yang berbeda.
Solidaritas keagamaan semacam ini memungkinkan umat Islam lebih mudah menjalani kehidupan di negeri orang. Bagaimanapun, ukhuwah Islamiyah selalu hidup dan menjadi bagian penting dalam napas kehidupan umat Islam.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 10 Agustus 2026 dengan judul "Tren Masa Depan Umat (15) Membaca Pola Migrasi Umat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.