Dark/Light Mode
- Ayah Lionel Messi, Jorge, Meninggal Di Usia 68 Tahun
- Erick Thohir Happy Banyak Klub Dunia Gelar Pramusim di Indonesia
- Persib Datangkan Danijel Loncar, Igor Tolic: Perkuat Lini Pertahanan
- 9 Talenta Persija Dipanggil Seleksi Timnas Indonesia U-16
- Chelsea Bantai AC Milan 3-0 di Indonesia Super Cup 2026
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Yang dimaksud dengan Islam Kafah dalam tulisan ini ialah Islam yang lebih komprehensif dan lebih akomodatif terhadap lingkungan sosialnya. Kata kafah dalam bahasa Arab berarti menyeluruh (totally), sedangkan lawannya adalah sebagian (partially). Tidak dapat disebut Islam Kafah apabila seseorang menerima sebagian ajaran Islam, tetapi menolak sebagian yang lain. Islam merupakan sebuah ajaran yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Misalnya, tidak tepat jika urusan agama hanya menjadi tanggung jawab ulama, sedangkan urusan pemerintahan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah tanpa adanya integrasi antara keduanya. Islam Kafah memadukan seluruh aspek ajaran Islam tanpa melakukan pemilahan. Inilah yang dimaksud dengan Islam Kafah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).
Pemisahan antara urusan negara dan ibadah, antara urusan dunia dan akhirat, antara aspek lahiriah dan batiniah, bahkan lebih jauh lagi antara manusia dengan nonmanusia, seperti alam dan makhluk gaib, merupakan bagian dari cara pandang Islam parsial yang menjadi antitesis dari Islam Kafah.
Baca juga : Menghadirkan Islam Kafah
Dari sudut pandang inilah Islam tidak sejalan, bahkan menolak, sekularisme dalam pengertian pemisahan antara agama dan urusan-urusan keduniawian. Pemisahan secara diametral antara satu urusan dengan urusan lainnya tidak dikenal dalam Islam.
Lebih jauh lagi, Islam juga tidak membenarkan cara pandang yang mempertentangkan manusia dengan Tuhan, seolah-olah manusia sepenuhnya hina dan rendah, sementara Tuhan dipahami semata-mata sebagai Zat Yang Mahasegalanya tanpa keterhubungan dengan ciptaan-Nya.
Pandangan kosmologi Islam tidak memisahkan alam, manusia, dan Tuhan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang koheren. Dalam arti tertentu, tidak ada maknanya berbicara tentang manusia dan alam tanpa berbicara tentang Tuhan, karena hakikat manusia dan alam tidak lain merupakan manifestasi (tajalli) dari Tuhan. Banyak ayat yang mendukung pandangan ini, antara lain:
Baca juga : Dakwah bi Lisan al-Maqal
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (menjadi bukti) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fussilat [41]: 53).
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hadid [57]: 4).
Pembicaraan mengenai konsep kafah dalam perspektif tasawuf menjadi lebih rumit karena berkaitan erat dengan konsep tauhid. Tauhid dalam perspektif tasawuf memang agak complicated, tetapi tetap clear. Tuhan tidak dapat digambarkan semata-mata sebagai The One (al-Wahdah), yakni Sang Pemilik Wujud Yang Maha Tunggal yang berada di luar pluralitas makhluk, sementara makhluk berada di dunia yang sama sekali terpisah dari Sang Pencipta. Gambaran seperti ini mereduksi keberadaan-Nya sebagai Tuhan Yang Mahameliputi (al-Muhith) dan Mahaluas tanpa batas (al-Wasi’).
Baca juga : Problem Teknis Dan Substansi Standardisasi Mubalig
Sebaliknya, Tuhan juga tidak dapat dipahami sebagai The Many (al-Katsrah), dalam arti bahwa Dia mewujud dalam bentuk pluralitas alam semesta. Anggapan seperti ini justru menafikan keberadaan makhluk sebagai makhluk dan, dengan sendirinya, mereduksi kapasitas-Nya sebagai Sang Khaliq.
Bagaimana mungkin ada Sang Khaliq tanpa makhluk? Bagaimana mungkin kita hanya mengakui-Nya sebagai Creator in Potential, tetapi menafikan-Nya sebagai Sang Pencipta dalam kenyataan? Dengan demikian, konsep kafah dan tauhid saling bersinggungan. Tidak mungkin memahami konsep kafah tanpa memahami konsep tauhid, demikian pula sebaliknya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 7 Agustus 2026 dengan judul "Trend Masa Depan Umat (12) Islam Yang Komprehensif"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.