BREAKING NEWS
 

Strategi Geopolitik Dalam Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Untuk Pengembangan Karakter Bangsa

Kamis, 27 Agustus 2026 08:02 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Mahasiswa hukum perlu memahami keadilan dan supremasi hukum; mahasiswa ekonomi ­memahami hubungan pertumbuhan, kemandirian, dan peme­rataan; mahasiswa teknologi memahami etika serta keamanan data; mahasiswa sosial mema­hami perang narasi dan pola­risasi; sedangkan mahasiswa kelautan dan per­tahanan memahami bahwa posisi Indonesia di antara dua benua dan dua samudra merupakan aset stra­te­gis yang harus dikelola untuk kepentingan nasional.

Kampus kemudian harus menjadi laboratorium geopolitik dalam skala sosial yang nyata. Tidak mungkin karakter persatuan dibangun jika ling­kungan akademik masih dipenuhi diskriminasi, intoleransi, perun­dungan, atau ketidakadilan. Tidak mungkin demokrasi tumbuh apabila kritik dianggap ­ancaman. Tidak mungkin keadilan sosial menjadi keyakinan apabila tata kelola perguruan tinggi tidak transparan.

Baca juga : Dalam Perspektif Geopolitik: Membangun DKI Jakarta Menunaikan Kemerdekaan RI

Pendidikan karakter karena itu harus hadir melalui pengalaman hidup, bukan hanya ceramah. Dosen dan pimpinan perguruan tinggi harus memberi teladan dalam integritas, objektivitas, keterbukaan terhadap kritik, profesionalisme, transparansi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Kampus yang mampu mengelola keberagaman secara adil sesungguhnya sedang me­latih generasi untuk mengelola kompleksitas geopolitik Indo­nesia: berbeda kepentingan, tetapi tetap berada dalam satu kepen­tingan nasional.

Organisasi mahasiswa juga harus ditempatkan sebagai laboratorium kepemimpinan strate­gis. Musyawarah, perbedaan pendapat, pengambilan keputusan, solidaritas, dan penyele­saian konflik merupakan latihan dasar bagi calon pemimpin ­bangsa. Karakter geopolitik bangsa tumbuh ketika mahasiswa memahami hu­bungan ­antara per­soalan lokal dan dinamika global: kemis­kinan berkaitan dengan ekonomi dunia, pangan berkaitan dengan rantai pasok, energi berkaitan dengan konflik internasional, dan keamanan digital berkaitan dengan persaingan kekuatan global.

Baca juga : Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung

Di sinilah makna geopolitik Pancasila menjadi semakin pen­ting. Penguasaan teknologi harus memperkuat kemandirian; ­pembangunan ekonomi harus memperkuat ketahanan; diplomasi harus menjaga kepen­tingan nasional; dan pengelolaan sumber daya harus menjamin ke­adilan. Karena itu, strategi geopolitik dalam penguatan Panca­sila membutuhkan kebijakan yang terintegrasi.

Pemerintah perlu menetapkan arah pendidikan karakter yang memiliki indikator substantif, bukan sekadar administratif. Perguruan tinggi perlu menyu­sun peta jalan penguatan Panca­sila yang menghubungkan kuri­kulum, budaya kampus, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, organisasi mahasiswa, literasi digital, dan kajian geopolitik.

Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi maju, ekonomi besar, atau pertahanan yang tangguh. Bangsa yang kuat, adalah bangsa yang memiliki karakter, ke­sadaran sejarah, dan kemampuan menentukan arah perjuangannya sendiri. Karena itu, pendidikan tinggi harus ditempatkan sebagai salah satu pusat strategi geo­politik nasional.

Ermaya Suradinata, adalah Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, DIREKTUR JENDERAL SOSPOL ­DEPDAGRI (1998-2001), dan GUBERNUR LEMHANNAS RI (2001-2005).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense