RM.id Rakyat Merdeka - Pendidikan tinggi harus ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama strategi geopolitik Indonesia dalam membangun karakter bangsa. Geopolitik tidak semata-mata berbicara tentang wilayah, kekuatan militer, sumber daya alam, atau posisi strategis suatu negara, tetapi juga tentang kualitas manusia yang mampu mengelola seluruh kekuatan tersebut untuk mencapai kepentingan nasional.
Dengan begitu, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat menentukan: membentuk generasi yang bukan hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki orientasi kebangsaan, integritas, daya tahan ideologis, dan kemampuan membaca perubahan lingkungan strategis global.
Baca juga : Dalam Perspektif Geopolitik: Membangun DKI Jakarta Menunaikan Kemerdekaan RI
Maka dari sini kecerdasan tanpa karakter dapat melahirkan manusia yang cakap secara teknis, tetapi mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan kepentingan global. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah memberikan landasan bahwa pendidikan harus mengembangkan kecerdasan sekaligus akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi perubahan. Dalam kerangka inilah penguatan nilai-nilai Pancasila harus dipandang sebagai strategi geopolitik: membangun manusia Indonesia yang memiliki kemampuan untuk berkompetisi secara global tanpa kehilangan identitas dan kepentingan nasional.
Tambahan pula di mana lingkungan strategis yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Globalisasi, revolusi teknologi informasi, kecerdasan buatan, kompetisi kekuatan besar, perang ekonomi, perang informasi, dan perubahan pola kekuasaan global telah membuat batas antara ancaman internal dan eksternal semakin kabur. Bersamaan pula mahasiswa hidup dalam ruang digital yang memungkinkan gagasan, ideologi, propaganda, disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, dan berbagai kepentingan geopolitik masuk tanpa mengenal batas wilayah.
Baca juga : Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung
Dalam kondisi demikian, karakter bangsa menjadi bagian dari pertahanan nasional. Negara dapat memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi akan tetap rentan apabila masyarakatnya mudah dipolarisasi, kehilangan kepercayaan terhadap institusi, atau tercerabut dari identitas nasional. Strategi geopolitik Indonesia karena itu harus memiliki dimensi ideologis dan pendidikan. Pancasila menjadi fondasi untuk membangun ketahanan masyarakat agar keterbukaan terhadap dunia tidak berubah menjadi kerentanan nasional.
Dalam strategi geopolitik, Pancasila berfungsi sebagai sumber kekuatan internal sekaligus landasan orientasi eksternal. Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan batas moral bagi penggunaan kekuasaan dan teknologi. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan bahwa kepentingan nasional tetap berpijak pada penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan Indonesia menjadi modal kohesi bagi negara kepulauan yang sangat majemuk. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan membentuk budaya dialog dan penyelesaian konflik secara damai. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengarahkan pembangunan agar kekuatan ekonomi dan teknologi tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara
Kelima sila tersebut membentuk karakter strategis bangsa: bermoral, berperikemanusiaan, bersatu, demokratis, dan berkeadilan. Karakter semacam inilah yang diperlukan agar Indonesia mampu menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menjaga kedaulatan, serta membangun kerja sama internasional tanpa kehilangan kepentingan nasional.
Karena itu, strategi penguatan Pancasila di perguruan tinggi harus dirancang sebagai strategi geopolitik yang konkret. Pancasila tidak cukup diajarkan melalui hafalan sejarah, rumusan sila, atau teori ideologi negara. Mahasiswa perlu dilatih membaca persoalan nasional dan global melalui perspektif kepentingan Indonesia. Kemiskinan, ketimpangan, korupsi, konflik identitas, perubahan iklim, keamanan siber, kecerdasan buatan, ketahanan pangan dan energi, ekonomi digital, rivalitas Amerika Serikat dan China, dinamika Indo-Pasifik, hingga keamanan maritim harus menjadi bahan pembelajaran.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.