Sebelumnya
“Di situ banyak warga yang lalu lalang. Sementara memang belum diterapkan sanksi denda. Mudah-mudahan mereka bisa diberikan edukasi,” ujarnya.
Sebagai informasi, sejak viral awal Juni lalu, kawasan Dukuh Atas ini selalu ramai. Warga, yang mayoritas remaja dari berbagai daerah, Citayam, Bojonggede, Depok, Tangerang, Bekasi, berdatangan ke sana. Bahkan pejabat hingga artis pun ikut berkunjung.
Kawasan Dukuh Atas strategis. Sangat mudah diakses. Banyak dijangkau angkutan umum. Ongkosnya juga murah. Jika menggunakan Transjakarta, turun di Halte Polda Metro.
Kalau naik KRL Jakarta-Bogor, berhenti di Stasiun Sudirman. Bagi yang memilih MRT, turun di Stasiun Dukuh Atas BNI. Bahkan kini, lokasi CFW sudah ada di Google Maps.
Baca juga : Dongkrak Kinerja, Pegadaian Kirim Karyawan Ke AS dan Eropa
Manfaatin Kota Tua
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sangat cocok menjadi tempat penyelenggaraan CFW. Kawasan ini sangat luas dan terjangkau dengan kereta Commuter Line.
Karena itu, Trubus mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memindahkan CFW ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Menurutnya, CFW berpotensi mendongrak perekonomian Jakarta. Kegiatan ini merupakan ajang kreativitas generasi muda yang ingin menunjukkan eksistensi.
Baca juga : PPATK Blokir 60 Rekening ACT
“CFW jangan disikapi sebagai pelanggaran ketertiban umum. Apalagi, pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” ungkap Trubus saat dihubungi.
Trubus menegaskan, Pemprov DKI memiliki kewenangan membuat aturan penyelenggaraan CFW. Sehingga, kegiatan ini dapat memberikan nilai positif bagi generasi muda dan meningkatkan perekonomian Jakarta.
“Harusnya sebagai pembuat kebijakan, Pemprov DKI dapat mengatur terselenggaranya CFW satu minggu sekali. Sehingga tidak menimbulkan ekses negatif bagi masyarakat. Seperti mengatur pelaksanaan Car Free Day (CFD) setiap akhir pekan,” sarannya.
Selain itu, Pemprov DKI juga bisa mencarikan tempat penyelenggaraan CFW seperti ke Kemayoran atau Kota Tua yang memiliki lahan terbuka yang luas. Bukan di Gedung atau di TIM yang masuk saja harus membayar parkir. Jika penyelenggaraan CFW dilakukan di gedung, komunitas SCBD pasti tak tertarik.
Baca juga : Ortu Dan Guru Diminta Pantau Anak Ketika Bermain Medsos
Pemprov DKI dapat merespons positif kreativitas anak muda menengah bawah ini dengan berkoordinasi memanfaatkan lahan di Kawasan Kota Tua milik BUMN, yang tengah direvitalisasi dan direnovasi.
Kawasan itu memiliki lahan luas. Kota Tua juga memiliki akses kereta api yang biasanya dijadikan sarana transportasi komunitas anak muda yang memeriahkan CFW.
Menurutnya, Pemprov juga bisa melakukan inisiasi untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka. Dengan memberikan beasiswa atau bekerja sama dengan Menteri Erick Thihir dan BUMN, untuk penggembangan kreativitas generasi muda Indonesia.
“Harusnya Pemprov DKI dapat berkolaborasi dengan Menteri Erick untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka,” ujar Trubus. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.