BREAKING NEWS
 

Saluran Air Tak Mampu Hadapi Cuaca Ekstrem

Master Plan Atasi Banjir Di Ibu Kota Sudah Jadul

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Sabtu, 15 Oktober 2022 07:30 WIB
Warga mengevakuasi seorang anak dari lokasi banjir di permukiman kawasan Bidara Cina, Jakarta, Senin (10/10/2022). (ANTARA FOTO/Henry Purba/rwa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Untuk menghadapi cuaca ekstrem di Ibu Kota dibutuhkan kebijakan ekstrem juga. Salah satunya, dengan melebarkan drainase satu hingga tiga kali lipat. Tanpa kebijakan berani, Jakarta akan terus tergenang saat hujan deras.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Nirwono Yoga mengamati, penyebab utama banjir di Ibu Kota sepekan ini terjadi akibat sistem drainase dan tata ruang kota yang buruk.

Hal itu terlihat dari banyak sungai di Jakarta tidak meluap. Banjir terjadi karena intensitas hujan lokal yang tak dapat ditampung sistem drainase.

Baca juga : Tanah Longsor Di Ciamis, 2 Warga Meninggal

Permasalahan ini sudah diakui Dinas Tata Air DKI. Bahwa hujan yang terjadi di Jakarta tak mampu ditampung drainase. Sayangnya, kedua masalah utama tersebut tidak dijadikan program utama jangka pendek Pemprov DKI dalam menangani banjir.

“Pemprov DKI lebih memilih untuk mengadakan pompa, genset, membuat tanggul, betonisasi, sodetan dan sebagainya. Pemahaman mereka tentang hujan dan banjir adalah bencana dan harus dibuang ke laut,” kata Nirwono, kemarin.

Menurutnya, hanya 30 persen atau 1/3 dari saluran yang berfungsi di Jakarta. Selebihnya, dipenuhi sampah, limbah, lumpur, dan berbagai macam utilitas.

Baca juga : Pemkot Jakpus Patok Banjir Surut Enam Jam

Berdasarkan penelitiannya, drainase di Jakarta saat ini hanya mampu menampung 60-70 milimeter (mm) dengan curah hujan sebesar 220 mm per hari. Sementara, lima tahun terakhir ini, curah hujan di Jakarta di atas 360 mm per hari.

“Pemprov DKI sudah tahu akan terjadi peningkatan curah hujan. Tapi tidak memperbaiki drainase. Seharusnya, drainase diperbaiki dengan memperluasnya tiga kali lipat. Misalnya luas drainase yang hanya sekitar 50 cm, harus diperluas menjadi satu meter,” ujarnya.

Khusus di kawasan Sudirman, MH Thamrin, Istana, Gatot Subroto, dan sebagainya yang kini memiliki luas 1 meter harus diperluas menjadi 3 meter.

Baca juga : Mayoritas Warga Ibu Kota Masih Mengandalkan Air Tanah

Bila sudah diperluas, menurut Nirwono, dilanjutkan dengan penataan jaringan utilitas. Fungsi utilitas kabel bisa ditaruh di sebelah kanan, dan pipa di sebelah kiri. Bagian tengah khusus untuk air. Sehingga tidak ada lagi tumpang tindih utilitas di drainase Jakarta.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense