Sebelumnya
Dengan pembagian jam masuk kerja itu, ada jeda 2 jam mobilitas masyarakat yang tidak berbarengan sehingga kepadatan berkurang. Untuk mensukseskan konsep ini, Latief mengimbau semua pihak menjalankan kebijakan ini. Sehingga transportasi di Jakarta ini bisa maksimal melayani.
Meski mendukung rencana ini, Sekretaris PDI Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo meminta, Pemprov DKI Jakarta melakukan kajian secara tuntas. Usulan ini, menurut Rio, upaya terobosan yang patut diapresiasi. Karena setiap persoalan dan permasalahan tidak harus menggunakan pendekatan konvensional dan rutinitas belaka.
“Namun harus melahirkan pendekatan-pendekatan yang keluar dari kebiasaan namun efektif serta bermanfaat nyata,” kata Rio.
Karena itu, menurut anggota Komisi A ini, wacana pembagian jam masuk kerja ini cukup menarik.
Baca juga : Kemendagri-Pemprov DKI Terus Matangkan RUU Kekhususan Jakarta
“Jika ditopang dengan kajian yang tuntas, rasanya perlu didukung,” ujarnya.
Rio bilang, pembahasan penanganan kemacetan yang menjadi salah satu masalah besar di Jakarta perlu melibatkan banyak pihak. Salah satunya melalui FGD. Forum ini diharapkan dapat mendatangkan sudut pandang kritis terhadap perumusan masalah.
Dia mengingatkan, FGD atau apapun namanya, dilakukan tidak hanya sebagai formalitas, rutinitas dan seremonialitas saja.
Selain itu, Rio meminta Pemprov DKI Jakarta fokus memperbaiki transportasi masal agar warga aman dan nyaman.
Baca juga : Deklarasi Relawan Anies, Surya Paloh Nggak Datang Tanpa Alasan
Direktur Angkutan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Tatan Rustandi mengatakan, selama tidak didukung dengan sistem transportasi umum yang baik di sekitarnya, kemacetan di Jakarta akan tetap terjadi.
Karena itu, dia mendorong perbaikan sistem transportasi umum secara menyeluruh. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di wilayah penyangga. Dengan sistem transportasi umum yang baik, orang akan beralih menggunakan angkutan umum.
Tatan bilang, Pemerintah sudah hadir cukup lama untuk mendukung transportasi publik. Seperti, kereta commuter dan Transjakarta yang disubsidi cukup besar. Namun, diungkap dia, penggunaan angkutan umum di Jabodetabek masih cukup rendah. Sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana.
Karena itu, BPTJ ingin penggunaan transportasi umum menjadi 40 persen dengan mengembangkan beberapa model transportasi publik.
Baca juga : Kurangi Kepadatan Di Bakauheni, ASDP Terapkan Delaying System
“Di Jakarta pengembangan transportasi publik yang modern cukup signifikan dan massif, namun ini juga harus dikembangkan di kota penyangga,” tandasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.