BREAKING NEWS
 

Warga Merasa Lebih Aman Nonton Film Di Rumah

Takut Terpapar Corona, Penonton Bioskop Sepi

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Rabu, 18 November 2020 05:47 WIB
Suasana ruangan studio yang sudah dibuka, di CGV Grand Indonesia di Jakarta, Sabtu (24/10). (Foto : NG Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka)

 Sebelumnya 
Rentan Menular

Pakar Epidemiologi dari Grif- fith University Australia, Dicky Budiman mengungkapkan, pembukaan bioskop tak boleh sembarangan. Harus ada persiapan yang matang. “Nggak bisa ujug-ujug buka. Harus ada persiapan yang sangat matang. Karena sektor ini rentan terjadi penularan,” kata Dicky dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Misalnya, lanjut Dicky, pembukaan bioskop di Sydney, Australia, persiapannya sampai dua pekan. Sebab, harus menyiapkan sistem pendaftaran online. Hindari pembelian tiket langsung. Nantinya, dalam sistem tersebut, akan mencatat nama, nomor identitas, alamat, usia, dan data penunjang lain seperti informasi riwayat kesehatan.

“Bahkan, pengunjung bioskop, tak boleh dari kota lain. Misalnya, kamu orang Jakarta Selatan, nggak boleh nonton di Jakarta Utara,” ujarnya.

Baca juga : Iran Janji Tak Bakal Jorjoran Beli Senjata

Data lengkap itu, lanjut Dicky, dibutuhkan untuk kepetingan tracing. Jadi, jika ada penonton yang positif, mudah melakukan pelacakan. “Dia nonton sama siapa, jam berapa, kelacak semua,” tandasnya.

Persiapan lainnya, disebutkan Dicky, mengenai manajemen bioskop. Petugas harus terlatih menerapkan protokol kesehatan. Mulai memakai masker, jaga ja- rak, cuci tangan, hingga pembersihan ruangan teater.

“Yang dibersihkan mana saja. Bangku, gagang pintu. Jeda waktunya juga harus diperhatikan. Di Australia, ada pelatihan dua pekan untuk ini sebelum benar-benar buka,” terangnya.

Mengenai pembatasan kapasitas, Dicky setuju 25 persen dari kapasitas. Ini angka ideal di tengah pandemi yang belum stabil ini. Dicky mengingatkan, tidak boleh satu gedung bioskop dengan empat teater, buka secara bersamaan. Harus ada jeda wak- tu penanyangan film.

Baca juga : Wamendes: Dari 74 Ribu Desa, Cuma 59 Yang Terpapar Corona

“Saya kurang tahu persis apakah semua persiapan ini sudah dijalankan. Sudah adakah gladi resiknya? Juga bagaimana dengan sirkulasi udaranya? Banyak lagi hal lain. Semoga tidak ada klaster baru di bioskop,” harapnya.

Soal meningkatnya kasus Corona di Indonesia, Dicky mengaku, tidak kaget. Sebab, tambahan dalam pemodelan epidemiologi, hanya setengah dari estimasi paling rendah kasus harian di Indonesia yang mencapai 10.000.

Dicky menilai, ada dua faktor yang menyebabkan kasus harian di Indonesia masih tinggi. Pertama, cakupan tes masih minim. Dan, telah berlangsung lebih dari empat bulan hingga kini. Artinya, masih sangat besar kemungkinan orang yang membawa virus, tetapi belum terdeteksi.

Kedua, belum maksimalnya strategi pengendalian Covid-19 di Indonesia. Hingga kini, lanjut Dicky, masih banyak kerumunan atau keramaian di Indonesia yang menjadi pemicu adanya penambahan kasus.

Baca juga : Takut Terpapar Corona Warga Ogah Mengungsi

Kurva terus meningkat, dari kumulatif confirm case, maupun kumulatif confirm death-nya Indonesia meningkat dengan meyakinkan. “Ini yang selalu saya sampaikan, kita ini gelombangnya naik terus kayak ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,’’ paparnya.

Dicky mengingatkan, belum ada gelombang kedua di Indonesia. Artinya,strategi pengendalian Covid-19 belum efektif sehingga harus diperbaiki. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense