Sebelumnya
Pada penjelasan di atas, subyek utama yang memberikan dan diberikan kepercayaan adalah manusia, yang secara fisik dan nyata, sehingga bisa divalidasi dengan baik dan benar. Jadi ketika dua orang bertransaksi pada ruang yang bernama bank, meski tidak ada pertemuan fisik, namun kedua orang tersebut bisa diverifikasi sebagai subyek yang nyata.
Baca juga : Dewas: Masih Ada Satu Laporan Dugaan Etik Lili Pintauli
Di sinilah problematikanya pada metaverse. Subyek manusia bisa dengan sendirinya “hilang” dalam berbagai sudut pandang. Mereka, para penghuni metaverse, bisa menghadirkan tubuhnya dengan wujud virtual yang bisa jadi berbeda dengan aslinya.
Baca juga : Dunia Alami Lonjakan Kita Harus Waspada
Akibatnya, model-model relasi pada dunia tersebut tidak akan pernah menemukan keutuhan. Subyek-subyek virtual akan berkenalan, berinteraksi dengan cara pandang yang sangat bebas, karena setiap orang bisa mengekspresikan dan menampilkan diri sesuai kemauannya, serta sebaliknya, mereka juga bisa menutupi sebagian dari dirinya.
Baca juga : Taiwan Dan China Kobarkan Permusuhan Di Awal Tahun
Dengan sendirinya, kemanusiaan bukan hanya hilang, meski tidak sepenuhnya, tetapi bisa jadi dipinggirkan karena tidak sesuai dengan alam metaverse tersebut. Subyek-subyek yang berelasi demikian dibatasi karena memang dunia metaverse ini sangat terbatas.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.