Sebelumnya
Struktur Sosial dan Ketergantungan
Dari kultur itu, maka struktur sosial dari minyak goreng pun tumbuh dan berkembang. Mereka yang memiliki kapasitas di aras produksi, kemudian membangun imperiumnya sendiri. Sehingga posisi ini demikian kuat karena mencengkeram pada kultur masyarakat tadi. Lihat saja, ketika minyak goreng ini gonjang-ganjing, muncul empat “penguasa” (Tempo, 28/01/2022) yang kemudian bisa disebutkan sebagai usaha yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
Keterikatan yang dalam pada minyak goreng ini, selain dari sisi bisnis menggiurkan, namun dari perspektif lain, seperti medis atau kesehatan, justru memiliki sejumlah permasalahan. Ketergantungan yang besar terhadap minyak goreng ini telah menyebabkan terpicunya berbagai penyakit seperti obesitas, kolesterol berlebih, asam urat, gangguan jantung, diabetes, terganggunya fungsi otak, kanker dan sebagainya.
Baca juga : Gaya Hidup Sehat dapat Meningkatkan Imunitas
Sementara ikesadaran untuk melepaskan dari produk ini jelas bukan hal mudah. Apalagi kalangan menengah bawah, di mana kehadiran minyak goreng dalam setiap kesempatan jelas tidak terhindarkan.
Di sinilah kemudian tampak sekali jelas bahwa aksesibilitas atas minyak goreng pada akhirnya menghasilkan realitas struktur sosial masyarakatnya. Gambaran sederhananya sebagai berikut:
Ada minyak goreng murah, yang gampang diakses masyarakat, meski dengan harga yang dinamis, namun dari sisi kesehatan justru kurang menyehatkan —untuk tidak mengatakan berpotensi memicu beragam penyakit.
Baca juga : Pria Ini Bertahan Hidup Dengan Makan Daging Mentah
Minyak goreng level ini jelas makanannya kelas bawah. Bahkan tidak jarang, model penggunaannya pun kadang jauh dari kata sehat. Misalnya ada minyak goreng yang dipakai terus menerus, tidak pernah diganti, hanya jika volumenya kurang, cukup ditambah lagi dan lagi. Mereka ini umumnya pedagang kelas kecil yang justru menjadi tujuan “jajan” kalangan bawah ini.
Kelompok masyarakat ini yang jika minyak goreng kemudian susah diakses dan atau mahal, akan berteriak, karena ada kebutuhan hariannya yang terganggu.
Lalu ada kelompok masyarakat kelas menengah, yang mengaksesnya pada minyak goreng kelas menengah juga. Dengan gaya akses pada minyak goreng jauh lebih sehat daripada kelas bawah yang umumnya mengakses minyak goreng curah, mereka justru mengelola konsumsinya atas minyak goreng ini cukup terkendali. Mereka juga sangat memperhatikan setiap asupan berbasis minyak ini.
Baca juga : Miss Kay, Diduga ‘Pemeran’ Nagita
Lalu ada kelompok masyarakat yang, katakanlah kelas atas, dengan kemampuan mengakses justru hanya pada minyak yang langka, sehat, terbatas. Sehingga mereka ini hidup lebih sehat karena tidak mengakses minyak goreng dengan lebih, bahkan cenderung sangat kurang.
Kedua kelompok ini sebenarnya tidak cukup terganggu oleh dinamika harga minyak goreng, bukan karena kemampuan finansial, tetapi karena gaya hidup mereka pun jauh lebih membatasi pada akses atas minyak goreng ini.
Dari ketiga level tersebut, terlihat bahwa semakin bawah, ketergantungan pada minyak goreng ini semakin tinggi dan semakin mengikat karena dipengaruhi oleh gaya hidup pengguna juga. Di sisi lain, kelompok ini juga yang, selain kebutuhan akan minyak goreng ini besar, pun kuantitas yang membutuhkannya sangat besar dan bahkan paling tinggi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.