BREAKING NEWS
 

Dari Kauman Padang Panjang: AR Sutan Mansur Suarakan Resolusi Jihad

Writer : Fikrul Hanif Sufyan
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Rabu, 10 Agustus 2022 14:04 WIB
AR Sutan Mansur, Ketua PB Muhammadiyah periode 1953-1956. Suksesor di balik berkembangnya Islam Berkemajuan di Sumatra Barat.

Bentuk barisan untuk perang, perang dan perang. Proklamasi menghendaki perjuangan secara gigih. Sebentar lagi Belanda tentu akan datang membonceng dengan tentara Sekutu-Baratnya. Belanda akan merebut kembali tanah air, kecintaan bangsa Indonesia ini."

Akhir pendudukan Jepang di Sumatra Barat pada medio Agustus 1945 memang menoreh penderitaan yang berkepanjangan di tengah situasi ekonomi yang sulit. Dalam situasi ekonomi yang morat-marit, Muhammadiyah Perwakilan Sumatra, tetap menyelenggarakan pelatihan dan pengkaderan untuk seluruh anggotanya. Tujuannya jelas, mematangkan kepemimpinan di daerah.

Kesaksian mengenai resolusi jihad yang diteriakkan A.R Sutan Mansur –atau yang akrab disapa Buya Sutan Mansur itu, dikisahkan oleh Kasim Munafy (1984), dan direkonstruksi kembali oleh Fikrul Hanif (2022). Dia merupakan aktivis Muhammadiyah Padang Pariaman, yang juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan mengikuti pengkaderan Muhammadiyah Minangkabau, jelang proklamasi kemerdekaan.

Dalam latihan kepemimpinan selama 15 hari itu, seluruh peserta yang berasal dari pelosok daerah itu dikader oleh Saalah Jusuf Sutan Mangkuto, RI Dt. Sinaro Panjang, Malik Ahmad, Iskandar Zulqarnain, Abdullah Kamil, dan Yacoeb Rasjid. Pengkaderan, juga dibantu guru-guru muda Kulliyatul Muballighien Padang Panjang, di antaranya: Raden Sulaiman (pengajar mars Muhammadiyah, HW, dan Pemuda Muhammadiyah), Adam (Mata Pelajaran Sejarah), Rasjid Idris Datuk Sinaro Panjang (administrasi persyarikatan) (Fikrul Hanif, 2002: 117).

Peristiwa pengkaderan ini, bertepatan dengan kekalahan Dai Nippon atas Sekutu. Sejak menyerah kalah, pemancar Sumatra Cuo Hoso Kyoku yang kemudian berganti nama menjadi Radio Republik Indonesia (RRI) di Bukittinggi, sudah tidak mengudara. Amura (1980) mencatat, sekitar tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menghentikan seluruh siarannya. Begitu pula dengan pemancar-pemancar lokal seperti di Padang dan Jambi. Sehingga, hubungan Sumatra dengan Jawa, seolah terputus, terlambat mendapat berbagai kabar dari Jakarta.

Baca juga : Merger dan IPO Startup Bakal Tangkal Resesi

Bahkan tidak hanya stasiun radio, surat kabar Padang Nippo, harian lokal yang biasa memuat berita-berita propaganda, juga tidak berproduksi lagi. Para petinggi-petinggi Jepang, kecuali Kempeitai, sudah tidak terlihat batang hidungnya. Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, berita tersebut segera disebar melalui Kantor Berita Domei.

Sebaran pertama berita proklamasi terjadi di Bukittinggi, diawali pegawai PTT bernama Ahmad Basya menangkap berita Proklamasi yang disiarkan kantor Domei Bandung. Lalu, berita itu diketik Asri Aidid gelar St. Rajo Nan Sati sebanyak 10 rangkap, selanjutnya dibawa diam-diam keluar gedung dan ditempelkan di lokasi-lokasi penting di Bukittinggi malam itu juga.

Pada 18 Agustus 1945 selebaran itu terbaca oleh beberapa orang, dan segera tersebar melalui lisan. Selain selebaran, berita kawat diterima Adinegoro yang menjabat Sekretaris Chuo Shangiin. Namun ia masih ragu-ragu. Sekelompok pemuda revolusioner kemudian meminta berita kawat tersebut, dan menyerahkannya kepada Moh. Safei  pada 19 Agustus 1945.

Sorenya, Moh. Syafei mengadakan rapat di rumah dr. Rasjidin, Padang Panjang (Haluan, 10 Agustus 1976). Dalam pertemuan itu disepakati, untuk memperbanyak selebaran dan berita kawat  itu dan disebarkan secara diam-diam ke berbagai kantor pemerintah, serta masyarakat.

Sehari sebelum berita itu sampai ke Moh. Syafei, Dt. Rajo Sikumbang telah menerima berita Proklamasi yang disiarkan Kantor Berita Domei Jakarta. Ia menyampaikan berita itu, keesokan harinya pada Ibrahim Gandi dan Muin Dt. Rajo Endah. Kemudian mereka mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat lainnya dan para pemuda untuk mengibarkan Merah Putih di tempat-tempat umum dan rumah penduduk.

Baca juga : PGN Umumkan Pemenang Program Bedah Dapur Jargas Gaskita Periode I

Peristiwa kasak-kusuk berita Proklamasi, tidak pernah diketahui oleh peserta Algemene Kennis Muhammadiyah. Sampai pelaksanaan Kuliah Subuh pada 19 Agustus 1945 diantarkan oleh Buya Sutan Mansur. 

Setelah membuka kajian selama tiga menit, menantu Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) itu memberitakan ia telah menerima berita kemerdekaan Indonesia, “…bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan oleh Dwitunggal Indonesia Soekarno-Hatta,” (Fikrul Hanif, 2002:: 117). Diduga, A.R Sutan Mansur telah menerima berita proklamasi tersebut dari Adinegoro yang merupakan Sekretaris di Chuo Sangi In.

Sontak saja, seluruh peserta meluapkan kegembiraannya. Para pemuda HW dan peserta kader seakan tidak percaya, bahwa Indonesia telah bebas dari cengkeraman penjajahan. Sutan Mansur yang masih diliputi kegembiraan itu, langsung berdiri. Dengan suara lantang ia berbicara, “Pulang!  Jam ini kursus kader ini ditutup. Saudara-saudara semua cepat pulang. Asah ladiang (parang), kampak dan tombak. Hari yang kita nanti-nanti telah tiba dan kita tidak boleh berlalai-lalai.”

Sesaaat kemudian, kembali Ketua PB Muhammadiyah (1953-1956) menyerukan resolusi jihadnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bentuk barisan untuk perang, perang dan perang. Proklamasi menghendaki perjuangan secara gigih. Sebentar lagi Belanda tentu akan datang membonceng dengan tentara Sekutu Baratnya. Belanda akan merebut kembali tanah air, kecintaan bangsa Indonesia ini. Belanda telah lama mempunyai pendirian, kalau Indonesia merdeka, lepas dari tangan Belanda itu akan berarti karamnya negeri Belanda!”.

Ipar HAMKA itu menyadari, bahwa proklamasi bisa berubah menjadi kemenangan sesaat, bila tidak ditindaklanjuti dengan langkah konkrit, untuk mempertahankannya. “Sekarang juga kursus ini, saya tutup! Dan kita semua kembali pulang ke negeri masing-masing dalam rangka mempersiapkan diri untuk perang melawan Belanda dengan senjata apa yang ada.” 

Baca juga : Anies Tak Mau Batalkan Keputusannya Sendiri

Demikianlah, seruan jihad telah dikumandangkan Buya Sutan Mansur. Suasana diakhiri dengan pekik "merdeka" dari peserta Algemene Kennis Muhammadiyah. “Merdeka..!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!” pekik mereka serempak. Resolusi jihad dari Buya Sutan Mansur inilah yang menjadi titik awal berkobarnya semangat pimpinan dan warga Muhammadiyah Sumatra Barat melawan kembalinya Belanda ke Tanah Air.

[Fikrul  Hanif Sufyan; Periset, Penulis dan Pengajar Sejarah di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh]

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense