Sebelumnya
Dari kacamata sosial, pasien penyakit ini kerap mendapat stigma tertentu di masyarakat. Bahkan, dikucilkan secara sosial.
Muncul anggapan, jumlah pasien masing-masing penyakit adalah sedikit. Meski kalau digabung semuanya, bisa berdampak ke satu miliar penduduk dunia. Baik dampak kesehatan atau sosial ekonomi.
Sebenarnya, kata Prof. Tjandra, jumlah yang relatif sedikit untuk masing-masing penyakit ini punya sisi lain. Maksudnya, kalau dijadikan prioritas, maka dapat dibasmi sepenuhnya.
"Dalam lima tahun masa kerja suatu pemerintahan, kalau sejak awal diseriusi, bukan tak mungkin, penyakit tertentu akan sepenuhnya dapat dieliminasi dari negara itu di akhir masa jabatan," tutur Prof. Tjandra.
"Mudah-mudahan, ini dapat jadi salah satu pertimbangan bagi Kementerian Kesehatan kita, pada tahun 2024 sampai 2029 mendatang. Kita tahu, salah satu fokus kesehatan dunia saat ini adalah pelaksanaan Universal Health Coverage – UHC," imbuhnya.
Dia menyayangkan, kelompok penyakit terabaikan ini hanya mendapat sumber daya yang sangat sedikit. Praktis, tidak mendapat perhatian memadai dari berbagai badan internasional, yang mendanai kesehatan dunia.
Penyumbang Lepra
Baca juga : Blusukan Ke Pasar Cisalak, Mendag Sebut Minyakita Jadi Pilihan Favorit Rakyat
Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang kasus kusta/lepra yang cukup banyak di dunia, bersama Brazil dan India.
Secara nasional, angkanya relatif dapat dikendalikan. Namun, jumlah kabupaten di daerah yang prevalensi kustanya masih cukup tinggi, masih lumayan banyak.
Contoh lain, kecacingan pada anak-anak. Itu jelas merupakan masalah kesehatan masyarakat penting. Karena berjangkit di sebagian besar wilayah Indonesia.
"Selain itu, kecacingan juga dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan, dan produktivitas," urai Prof. Tjandra.
Rabies akibat gigitan anjing juga masih terus terjadi di berbagai daerah, bahkan sampai di Bali.
Ini pernah jadi perhatian kita bersama pada tahun lalu, saat Bali menjadi tuan rumah G20 Presidensi Indonesia.
Demam keong yang nama ilmiahnya Schistosomiasis, di lingkungan negara WHO Asia Tenggara, kasusnya hanya pernah terjadi di negara Indonesia dan Timor Leste.
Baca juga : Daftar Perusahaan Penyuap Eks Pejabat Pajak, Dari PT Esta Indonesia Hingga Link Net
Pasien demam keong terdeteksi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Yaitu dataran tinggi Napu dan Bada di Kabupaten Poso, dan dataran tinggi Lindu Kabupaten Sigi.
"Karena kasusnya terbatas, maka dengan upaya maksimal, harusnya dapat dieliminasi. Meski memang, ada masalah tentang danau yang ada, hutan lindung, siklus hidup cacing parasit skistosoma penyebab penyakit yang dibawa oleh keong oncomelania hupensis lindoensis, yang menembus kulit ketika orangnya sedang berada di daerah area fokus keong," terang Prof. Tjandra.
Mantan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular ini memaparkan, selain penyakit-penyakit ini, di jalan, kita masih melihat pasien kusta.
Kita juga masih mendengar kasus chikungunya di berbagai daerah. Serta pasien kaki gajah.
Obat untuk kelompok penyakit NTD ini juga terbatas. Secara umum, negara-negara (termasuk Indonesia) mendapatkannya dari sumbangan WHO.
Bukan tak mungkin, ada keterlambatan pengadaan obat dari pada waktu-waktu tertentu, seperti halnya obat demam keong yaitu Praziquantel yang terlambat diterima pasien pada awal tahun ini.
Begitu juga kabarnya dengan sebagian obat kusta, walau akhirnya dapat teratasi.
Sebagian terapi, ada yang berbentuk vaksin dan serum yang jumlahnya juga terbatas. Misalnya, vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR), yang pengadaannya perlu ada untuk manusia. Juga vaksinasi anjing, agar tidak menulari rabies.
Terkait hal ini, Prof. Tjandra menyarankan, agar produsen dalam negeri juga ikut memproduksi obat sebagian penyakit terabaikan ini. Dengan mekanisme subsidi atau kebijakan kemudahan tertentu dari pemerintah.
Prof. Tjandra menyampaikan, dalam peringatan Hari Neglected Tropical Diseases (NTDs) Sedunia yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah pada 21 Februari 2023, Menteri Kesehatan akan menyerahkan Sertifikat Bebas Frambusia dan Sertifikat Eliminasi Filariasis kepada Bupati/Walikota yang berhasil mencapai eradikasi/eliminasi penyakit-penyakit tersebut.
"Mudah-mudahan, di waktu mendatang, akan makin banyak jenis penyakit terabaikan yang dapat dieliminasi. Dan makin banyak pula kabupaten/kota yang dapat mengeradikasi penyakit menular terabaikan ini," ujar Prof. Tjandra.
"Ingat, prinsip dasar kesehatan masyarakat, semua orang harus mendapat penanganan yang baik. Apa pun penyakit yang dideritanya. No one left behind," pesannya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.