RM.id Rakyat Merdeka - Penanggulangan terorisme adalah perjuangan panjang yang harus dijaga keberlanjutannya. Sebab, penyakit terorisme dan radikalisme sangat sulit disembuhkan jika telah sampai pada stadium akhir.
Dalam hal ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk menjalankan fungsi pencegahan terhadap virus-virus intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang dapat merusak tatanan kehidupan bangsa Indonesia. Per 16 Juli 2023, BNPT merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13. Seiring perjalanan waktu, kehadiran BNPT mampu menjalankan fungsinya dalam mencegah dan meredam radikalisme dan aksi terorisme.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar mengapresiasi kerja-kerja pencegahan yang dilakukan BNPT. Ia melihat, sejak ada BNPT kuantitas aksi terorisme terus menurun.
"Kuantifikasi garis keras atau kelompok radikal di Indonesia ini, tingkat kegiatan radikalismenya itu sangat minim dibandingkan dengan jumlah keseluruhan populasi penduduknya. Di beberapa negara lain, ada yang negara Islam ataupun bukan, ternyata tingkat radikalismenya lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia," ujar Prof Nasaruddin, seperti keterangan BNPT yang diterima redaksi, Kamis (27/7).
Baca juga : Gelar Lomba Mural, BNPT Ajak Masyarakat Berpartisipasi Gelorakan Pesan Damai
Prof Nasar menyatakan, masyarakat Indonesia harus bersyukur karena berada di bawah payung Pancasila yang sangat menyejukkan untuk semua golongan. Kalaupun ada perbedaan pendapat, itu adalah hal biasa, selama tidak bertentangan dengan konstitusi dan falsafah bangsa.
"Adanya perbedaan adalah hal yang wajar. Janganlah kita memusuhi orang yang berbeda dengan kita. Karena biar bagaimanapun, kita ini berasal dari bangsa yang sama," terangnya.
Cendekiawan Muslim yang juga menjadi salah satu Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menambahkan terkait pendekatan penanggulangan terorisme yang dilakukan. Teknik penanggulangan terorisme dengan hard approach (pendekatan secara keras), di beberapa kejadian memang perlu dilakukan. Namun, teknik soft approach (pendekatan secara halus) juga tetap diberikan dengan menyesuaikan masing-masing kondisi dan kejadian.
"Sama halnya dengan mendidik anak kita sendiri. Ada anak yang perlu ditegur dengan cara yang keras, ada pula yang bisa dididik dengan cara yang halus. Sejatinya, kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan secara keseluruhan. Alangkah baiknya jika kita bisa melakukan penanggulangan radikalisme dan terorisme dengan cara-cara yang humanis dan berkeIndonesiaan," sambung Prof Nasar.
Baca juga : Prabowo Banjir Dukungan Kelompok Relawan Jokowi
Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta berpendapat, negara-negara di dunia perlu berguru terhadap Indonesia. Sebab, Indonesia adalah yang pertama kali berhasil menciptakan dan menjalankan konsep soft approach dalam penanggulangan terorisme. Konsep ini sebenarnya mengadopsi contoh yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam konsistensi melakukan perbuatan baik, walaupun terhadap orang zalim.
Prof Nasar juga mengapresiasi tinggi kegiatan Sarasehan Dai-Daiyah Sulawesi Selatan, yang digelar BNPT di Makassar, Kamis (20/7). Menurutnya, langkah memaksimalkan peran dai dan daiyah adalah salah satu cara terbaik dalam melawan penyebaran radikalisme yang mengatasmakan agama.
“Saya ucapkan selamat kepada BNPT mampu menghimpun dan mengumpulkan penguasa-penguasa mimbar di Sulawesi Selatan ini. Saya senang karena materi dan peserta kegiatan ini sangat luar biasa. Ini orang pintarnya Sulawesi Selatan berkumpul di sini. Ini prestasi tersendiri bagi BNPT,” ujarnya.
Ia berharap, di tempat lain juga BNPT bisa menciptakan kegiatan serupa dengan merangkul para dai dan daiyah. Menurutnya sangat penting memberikan informasi-informasi pencegahan radikalisme dan terorisme kepada para dai dan daiyah.
Baca juga : Arema FC Percaya Kualitas Pemain Muda Timnas
“Semoga ke depan BNPT terus menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan warga bangsa dan umat dari berbagai macam aspek-aspek negatif dari radikalisme dan terorisme,” ucapnya.
Prof Nasar berpesan, agar BNPT bisa tetap konsisten dalam menjaga iklim bernegara yang inklusif dan toleran. Kondisi yang aman dan damai tidak lepas dari peneguhan Pancasila dan UUD 1945 sebagai jati diri bangsa.
“Kita berharap BNPT bisa menciptakan kondisi aman dan damai seperti yang sekarang ini di seluruh Indonesia. Kita juga berharap semoga BNPT semakin maju dalam menemukan cara yang terbaik untuk menyelamatkan Indonesia dari berbagai efek negatif radikalisme dan terorisme,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.