BREAKING NEWS
 

Ini Kata Prof. Didik Soal Duet Anies-Iman, Pilkada Jakarta Dan Paramadina

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 28 Juni 2024 09:15 WIB
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini menyoroti kehadiran eksperimen pasangan Anies Baswedan-Mohamad Sohibul Iman (Anies-Iman) atau AMAN, yang dinilainya begitu menarik perhatian publik dan akan menjadikan Pilkada Daerah Khusus Jakarta lebih bergema secara nasional.

Prof. Didik mengatakan, Pilkada DKJ hampir setara Pemilihan Presiden (Pilpres), karena menjadi barometer nasional. Para gubernurnya sekaligus menjadi tokoh kaliber nasional, yang potensial menjadi presiden pada periode berikutnya.

"Yang menarik dan juga menjadi perhatian publik, Shohibul Iman PhD (PKS) dan Anies Baswedan PhD adalah mantan rektor Universitas Paramadina," ujar Prof. Didik dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (27/6/2024).

Kata Prof. Didik, Universitas Paramadina tidak besar dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak. Tetapi juga tidak kecil, karena pada saat ini jumlah mahasiswanya hampir 6.000 orang.

Prof. Didik meyakini, kehadiran tokoh-tokoh yang hebat itu akan membuat Universitas Paramadina semakin dikenal, dipercaya, dan diminati masyarakat dan publik secara luas. Sehingga, akan menjadi universitas yang besar.

Baca juga : Kaesang Ingatkan Sekjen PKS Jangan Bawa-bawa Presiden Soal Pilkada Jakarta

"Sebenarnya, tidak hanya Anies dan Shohibul Iman yang tampil di panggung nasional dan ikut membesarkan nama Paramadina. Selain mereka, di Paramadina, juga ada nama Sudirman Said yang pernah menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan berniat juga menjadi Calon Gubernur DKI. Tetapi, lebih dominan Anies dalam politik Jakarta saat ini," beber Prof. Didik.

Dia juga menyebut nama Sandiaga Uno (PPP), yang saat ini menjabat bendahara di Paramadina. Serta Jusuf Kalla, yang sekarang menjadi Ketua Badan Pembina Yayasan. Selain itu, juga ada Tia Rahmania (PDIP), Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, yang terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2024-2029, Daerah Pemilihan Banten.

Lalu apa yang menarik? Secara faktual, Paramadina memiliki Yayasan, Universitas, pengajian, dan aktivitas kemasyarakatan lainnya. Paramadina yang didirikan Nurcholish Madjid Cs, sejatinya adalah sebuah gerakan pemikiran, intelektual, sosial pendidikan, aktivisme dan lainnya.

"Paramadina tidak sekedar kampus, yang memang lebih dikenal, tetapi sejatinya adalah gerakan yang luas, sehingga tidak aneh muncul tokoh-tokoh berbagai warna," tutur Prof. Didik.

Adsense

Dia pun mencontohkan momen Anies menjadi calon gubernur atau calon presiden. Ketika itu, di Paramadina, ada yang memilih Anies, ada juga yang tidak. Sesuai keyakinan masing-masing.

Baca juga : ISOPLUS RUN Series 2024, Siap digelar di Jakarta dan Surabaya

"Paramadina memang seperti ini karena memang bukan partai politik. Orang-orang yang berkegiatan di Paramadina, ketika masuk ke dalamnya tidak berpolitik praktis, sehingga bisa menerima semua kalangan," cetus Prof. Didik.

Dalam pandangannya, Pilkada DKJ tak hanya menarik dari sisi kontestasi Anies, Iman, dan PKS. Di kota ini, pilkada berlangsung dengan suasana seperti pilpres sehingga menarik perhatian semua kalangan pengamat, media, luar negeri dan masyarakat luas.

"Dalam Pilkada DKJ, sudah jelas Anies paling tinggi daya jual dan elektabilitasnya. PKS dalam hal ini, bergerak lebih awal dengan semangat merebut lebih dahulu ketimbang Nasdem dan PKB, yang sudah berniat semi terbuka untuk mencalonkannya," urai Prof. Didik.

Karena tidak merupakan hasil musyawarah, beberapa pihak analis menyatakan pasangan Anies-Iman (AMAN) tidak aman.

"Memang begitulah politik, sebelum penetapan resmi KPUD, siapa pun bakal calon di pilkada ini masih bisa berubah total terbalik dari rencana semula. Ini ciri politik Indonesia, yang sama sekali tidak memiliki ideologi apa pun, kecuali transaksional belaka," sebut Prof. Didik.

Baca juga : Di Pilpres: Amin Di Pilkada: Aman

"Dalam pilkada ini, Anies memang turun pangkat. Tapi, ini penting untuk persiapan Pilpres 2029. Jika mundur dari politik, sudah pasti namanya lenyap dari peredaran. Seperti Wiranto, Agum Gumelar, Hatta Rajasa, dan lain-lain," lanjutnya.

Di mata Prof. Didik, PKS adalah partai paling sukses dan paling tinggi perolehan suaranya di Jakarta. Tapi, untuk urusan pencalonan gubernur, PKS tidak bisa sendiri. Sehingga, memerlukan kawan partai lain.

"Bukan tidak mungkin, ini menjadi bumerang ketika lobi-lobi lanjutan terjadi. Nasdem dan PKB tentu tidak bisa menelan begitu saja semacam corporate action ini. Lobi akan terus berlangsung dengan interest yang pasti kuat dari partai-partai lainnya," papar Prof. Didik.

Menurutnya, duet Aman bisa bubar karena proses lobi yang intensif, atraktif, bahkan liar. Tetapi, Prof. Didik meyakini, Anies akan menjadi rebutan sehingga menjadi calon paling potensial. Kecuali, ada yang meruntuhkannya.

"Ridwan Kamil akan mengambil peluang ini dan keberuntungan untuk tahun 2029. Jadi, Pilkada DKJ ini sangat jelas berhubungan langsung dengan politik 2029, khususnya Pilpres," tutur Prof. Didik, yakin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense