BREAKING NEWS
 

Catatan Fitri Suhariyadi, Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP

Paskibraka Persiapkan Gen Z Sebagai Bonus Demografi

Reporter & Editor :
ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT
Jumat, 23 Agustus 2024 10:28 WIB
Analis Kebijakan Ahli Madya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Fitri Suhariyadi. Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan hanya soal kebanggaan, tapi juga manfaat tiada tara selama hidup. Seorang Paskibraka akan dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, tangguh dan bertanggung jawab. Pelatihan intensif mengajarkan mereka pentingnya kedisiplinan dan responsif, sehingga membentuk karakter yang kuat dan tegas.

Modal tersebut sangat berharga dan riil diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Baik di sekolah, lingkungan sosial, maupun dunia kerja. Anggota Paskibraka biasanya bertemu dengan banyak orang penting, baik dari kalangan pemerintah, militer, maupun tokoh masyarakat. Selain itu, antar anggota lintas daerah juga bisa interaksi dan cipika-cipiki untuk jaringan pertemanan serta pekerjaan di masa depan. 

Menjadi Paskibraka, khususnya Paskibraka Tingkat Nasional, berarti terlibat langsung dalam upacara kenegaraan yang sangat penting, seperti saat Hari Kemerdekaan. Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang urgensi cinta Tanah Air dan pengabdian kepada negara.

Mantan Paskibraka, niscaya mendapatkan kemudahan jika ingin melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) atau Akademi Kemiliteran (Akmil). Beberapa instansi pendidikan dan kerja juga memberikan kemudahan fasilitas bagi peserta dan jebolan Paskibraka. Belum lagi beasiswa, honor dan hadiah apresiasi dari pemerintah atau swasta. 

Baca juga : Merdekakan Perempuan Nelayan Tradisional

 Wadah Gen Z

Rata-rata peserta seleksi Paskibraka berusia 16-17 tahun. Secara psikologis, jiwa dan perasaan mereka super sensitif. Apalagi kaum milenial dan Gen Z, tak bisa sembarangan dibentak-bentak. Responsnya pasti melawan, ngambek atau mendadak ngaku sakit mental alias depresi. Situasi yang lebih parah di luar dunia Paskibraka tersebut, harus kita pahami dan cari jalan keluarnya. Terlebih sekarang ini, setiap tahun lebih dari 24 ribu anggota Paskibraka secara nasional itu adalah Gen Z. 

Adsense

Secara tidak langsung, Paskibraka sudah established sebagai wadah bagi Gen Z. Sarana dan prasarana telah tersedia untuk mendidik dan membina anak zaman now agar lebih baik dari yang dikeluhkan berbagai pihak. 

Konon, saat masuk dunia kerja, mereka tidak memiliki keterampilan untuk berdebat, mengutarakan ketidaksetujuan, atau bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda opini.

Baca juga : Jokowi Minta HIPMI Kawal Indonesia Emas 2045, Bonus Demografi Jadi Sorotan

Meski begitu, Gen Z yang lahir antara tahun 1997-2012 tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Media sosial dan disrupsi di bidang pendidikan akibat pandemi, sebagai penyebab utama tantangan di tempat kerja. Anak muda terlalu banyak melihat media sosial seperti TikTok dan Instagram. Selama pandemi, Gen Z juga terpaksa belajar sendiri, dan interaksinya terbatas secara daring melalui Zoom. Jadi, saat bertemu aturan dan orang yang berbeda, mereka kaget. 

Dari situ, kita harus mengingat. Indonesia ditargetkan menjadi negara maju sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045 yang telah dirancang oleh Presiden dan Bappenas. Indonesia diprediksi mendapat bonus demografi yang akan berdampak baik pada peningkatan kondisi perekonomian dan akan mengeluarkan Indonesia dari middle income trap. Namun semuanya hanya mimpi, jika jiwa dan raga Gen Z tidak dipersiapkan dengan baik sebagai puncak bonus demografi. 

Dibekali BPIP

Sebagai wadah Gen Z, tentu Paskibraka berusaha senantiasa kreatif dan inovatif agar mereka tergugah, berani, dan kompak. Tujuan itu akan tercapai jika para anggota dibekali nilai-nilai Pancasila. Di sinilah salah satu tugas kami, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 51 tahun 2022 tentang Program Paskibraka, pembentukan Paskibraka bukan sebatas menaikkan dan menurunkan bendera pusaka pada peringatan HUT RI. Lebih mulia nan strategis, berupa sistem pengkaderan calon pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila. 

Baca juga : TPN Tegaskan Ganjar-Mahfud Siap Hadapi Bonus Demografi

Sistem pembinaan dalam pemusatan diklat terdiri dari pembelajaran aktif ideologi Pancasila dan pemantapan nilai wawasan kebangsaan. Pelatihan kepemimpinan dan baris-berbaris, serta pengasuhan untuk membentuk generasi yang tangguh, mandiri, dan berkarakter Pancasila. Dengan pola pembinaan tersistematis, pengetahuan dan pemahaman Gen Z soal kebangsaan akan meningkat. Kelak, para Paskibraka siap menjadi calon pemimpin bangsa atau kontributor ekonomi masa depan yang berjiwa nasionalisme. Mengisi puncak bonus demografi, mantap melangkah bersama Artificial Intelligence, Machine Learning dan entah mesin apa lagi. BPIP bukan siapa-siapa, tapi kami sudah ada. Mari saling bantu demi anak-anak kita. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense