RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu Dr. Surya Vandiantara, menilai kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada Ramadan tahun ini masih tergolong normal dan dalam batas wajar.
Menurutnya, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan kenaikan harga tersebut masih rasional. Pertama, lonjakan harga tidak dipicu kelangkaan barang. Kedua, kenaikan pada beberapa komoditas pangan tidak diikuti kenaikan harga komoditas atau barang lainnya.
“Kemudian, kenaikan harga komoditas pangan masih diikuti oleh kenaikan tingkat konsumsi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa harga pasar hari ini masih dalam jangkauan daya beli masyarakat,” kata Surya dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Baca juga : Susu MBG di Negeri Kepulauan: Antara Pasokan, Mesin, dan Kemasan
Dia menjelaskan, stok pangan nasional hingga kini juga berada dalam kategori aman. Artinya, kenaikan harga bukan disebabkan turunnya produksi, melainkan meningkatnya pola konsumsi masyarakat setiap Ramadan dan Idul Fiitri.
“Budaya atau kebiasaan mengkonsumsi komoditas pangan lebih banyak ketika Bulan Ramadan menjadi pemicu kenaikan tingkat permintaan di pasar. Kenaikan tingkat permintaan inilah yang akhirnya direspon dengan kenaikan harga oleh para penjual atau produsen,” terangnya.
Meski demikian, Surya mengingatkan adanya potensi pedagang nakal atau kartel komoditas pangan yang sengaja memanfaatkan momentum untuk mendongkrak harga di luar batas kewajaran demi meraup keuntungan lebih besar.
Baca juga : Pengamat: Respons Cepat Seskab Teddy Efektif Tangkal Disinformasi
“Kartel atau pedagang nakal inilah yang kemudian sejatinya dapat merusak harga pasar. Sehingga harga barang-barang di pasar, bukanlah cerminan dari hukum permintaan-penawaran yang ideal,” sambungnya.
Karena itu, ia menilai operasi pasar yang saat ini digencarkan pemerintah sangat penting untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan. Pemerintah juga diminta memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti memainkan harga.
“Tindakan tegas tersebut bisa berupa pencabutan izin usaha, agar memberikan efek jera. Sehingga masyarakat pun akhirnya merasa lebih aman ketika berbelanja di Bulan Ramadan,” pungkasnya.
Baca juga : DPR Ingatkan Larangan Mudik Motor Jangan Diterapkan Mendadak
Merujuk Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pukul 08.46 WIB, harga cabe rawit merah masih berada di level tinggi, yakni dibanderol Rp 72.566 per kilogram, melampaui rentang harga acuan penjualan (HAP) nasional Rp 40.000-Rp57.000 per kilogram.
Lebih lanjut, harga rata-rata telur ayam ras masih merangkak naik meski tipis 2,99 persen dibandingkan HAP nasional Rp 30.000 per kilogram, menjadi Rp 30.896 per kilogram. Sama halnya dengan harga daging ayam ras yang juga mengalami kenaikan 0,67 persen dari HAP nasional Rp 40.000 per kilogram, sehingga berada di level Rp 40.266 per kilogram.
Meski begitu, pemerintah memastikan stok pangan nasional masih dalam kondisi aman. Operasi pasar dan intervensi distribusi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga selama bulan puasa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.