BREAKING NEWS
 

Tetap Jaga Kepercayaan Publik Bawaslu Waspadai AI Ganggu Pemilu 2029

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : ABDUL SHOMAD
Kamis, 26 Februari 2026 06:40 WIB
Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Rahmat Bagja. (Foto: Putu Wahyu Rama/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Rahmat Bagja mengingatkan seluruh jajaran penyelenggara Pemilu waspada terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Disinformasi digital berpotensi menjadi tantangan terbesar pada Pemilu 2029.

“Kita punya masalah besar di era AI. Ada deepfake, bahasa dan wajah bisa disamakan. Ini sangat berbahaya karena aturannya belum ada. Pencegahan penting kita bahas bersama,” ujar Bagja dalam Kick Off Ngabuburit Pengawasan Bawaslu Yogyakarta yang digelar secara daring, Selasa (24/2/2026). 

Bagja meminta Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten/Kota terus memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Di era digital pengawasan tak bisa berjalan sendiri. 

“Alhamdulillah, kita terus bekerja sama dengan stakeholder untuk mengantisipasi disinformasi, misalnya dengan Mafindo, NGO lainnya, serta platform seperti Meta, Google dan TikTok, sehingga permasalahan di media digital bisa diminimalisir,” jelasnya. 

Selain itu, kata Bagja, pemilih pemula juga menjadi tantangan tersendiri. Generasi ini sangat akrab dengan dunia digital, sehingga literasi dan cek fakta harus terus digencarkan guna menekan hoaks dan kampanye hitam. 

Baca juga : Tambah Kapasitas Untuk Mudik Lebaran, KAI Jual Tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan

“Ramadan ini jadi bahan introspeksi. Kita berpikir kembali sebagai bangsa menghadapi ujian ke depan. Kita berharap Bawaslu bisa terus menjalankan tugasnya di tengah kecanggihan digital yang berkembang,” ujarnya. 

Bagja juga mengajak seluruh jajaran pengawas Pemilu memperkuat tata kelola kelembagaan sebagai fondasi menjaga kepercayaan publik. Pengawas Pemilu memikul amanah konstitusi untuk memastikan setiap tahapan berjalan berintegritas dan dapat dipertanggungjawabkan. 

“Penguatan sistem, integritas, dan profesionalisme menjadi syarat utama agar pengawasan mampu menjawab tantangan pemilu yang semakin kompleks,” tegasnya. 

Menurut Bagja, kepercayaan publik adalah penopang utama kualitas demokrasi. Proses pengawasan harus memastikan setiap suara rakyat dihormati dan dihitung secara adil. 

Adsense

Dia menegaskan, demokrasi bukan hanya tentang hari pemungutan suara, tetapi tentang proses panjang yang dibangun di atas kepercayaan. 

Baca juga : Jam Operasionalnya Diatur, Yang Nggak Berizin Ditutup

“Tantangan pengawasan terus berkembang. Ini harus terus dicermati,” imbaunya. 

Bagja mengatakan, pergeseran kampanye ke ruang digital dengan arus informasi yang sangat cepat memunculkan persoalan baru, mulai dari politik uang, disinformasi, hingga polarisasi sosial. Semua itu harus dihadapi dengan pendekatan adaptif dan berbasis sistem. 

“Karena itu, penguatan tata kelola kelembagaan harus diwujudkan melalui prosedur penanganan laporan yang jelas dan tepat waktu, keputusan dengan dasar hukum kokoh, serta tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan kepada publik,” tandasnya. 

Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Andalas ini menambahkan, di balik regulasi dan prosedur, terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Setiap laporan masyarakat, merupakan harapan atas hadirnya keadilan dalam proses demokrasi. 

“Penindakan Bawaslu memperkuat langkah pencegahan melalui pemetaan indeks kerawanan dan deteksi dini potensi pelanggaran. Namun jika pelanggaran terjadi, penanganan harus dilakukan secara tegas dan profesional,” pungkasnya. 

Baca juga : Bodo Memang Pintar

Anggota Bawaslu Lolly Suhenti menambahkan, Ramadan menjadi momentum tepat untuk merefleksikan sumpah jabatan dan komitmen pengabdian sebagai pengawas Pemilu. Dia mengingatkan, kerja pengawasan berjalan sepanjang masa jabatan lima tahun, baik ada tahapan pemilu maupun tidak. 

“Demokrasi bukan hanya soal hasil atau siapa pemimpin yang lahir, tetapi memastikan prosesnya berjalan benar,” tegas Lolly. 

Senada, Anggota Bawaslu Totok Haryono mengajak seluruh jajaran mengambil spirit historis Ramadan sebagai bulan perjuangan. 

Dia memaknai Ramadan sebagai momentum untuk “membakar” berbagai penyakit demokrasi seperti oligarki, otoritarianisme dan ketidaknetralan aparat. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense