RM.id Rakyat Merdeka - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Sampai pukul 15.00 WIB, dilaporkan 38 orang meninggal. Di hari yang sama, gempa M6,4 mengguncang wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu (15/8/2026) pukul 17.54 WIB. Gempa NTT lebih dahsyat dibandingkan gempa Kolombia yang terjadi pada Senin (10/8/2026). Gempa Kolombia yang berkekuatan M7,4 menewaskan 265 orang.
Gempa NTT terjadi pukul 05.58 WITA atau 04.58 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap. Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan kuat membuat warga berhamburan keluar rumah. Masyarakat pesisir bergegas menuju dataran tinggi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami, beberapa saat setelah gempa.
Di Marapokot, Kabupaten Nagekeo, pekerja galangan kapal Samsul Bahri (43 tahun), menjadi salah satu warga yang merasakan dahsyatnya gempa. Saat kejadian, Samsul baru terbangun setelah alarm telepon selulernya berbunyi. Ia sempat mematikan alarm dan kembali berbaring. Tak lama berselang, rumahnya bergoyang keras.
“Saya lihat lantai sudah mulai terbelah. Langsung saya lari,” tutur Samsul.
Saat meninggalkan rumah, Samsul melihat sejumlah tiang listrik tumbang dan bagian tembok rumah warga runtuh. Kepanikan semakin terasa setelah warga mengetahui adanya potensi tsunami.
Dampak gempa juga merusak infrastruktur. Sejumlah bangunan rusak dan roboh, sementara ruas jalan di Flores dilaporkan putus akibat longsor. Gangguan kelistrikan terjadi setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Maumere dan PLTMG Rangko sempat padam.
Di Kabupaten Sikka, bangunan di kawasan Pelabuhan Laurentius Say Maumere roboh dan menimpa warga. Tim SAR gabungan langsung menyisir tumpukan material untuk mencari kemungkinan korban yang masih tertimbun.
Data korban terus bertambah seiring petugas melakukan pencarian dan pendataan. Berdasarkan pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga pukul 12.30 WIB, Sabtu (15/8/2026), sebanyak 14 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 11 orang luka ringan.
Baca juga : Iran Pastikan Masih Kuasai Selat Hormuz
Korban meninggal tersebar di tiga kabupaten. 3 orang berada di Sikka, 6 orang di Manggarai, dan 5 orang di Manggarai Timur. Sementara korban luka dilaporkan di Sikka, Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Timur.
"Ini data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Berton melanjutkan, gempa juga menyebabkan sekitar lima kepala keluarga terdampak dan sekitar 2.000 warga mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri. Sebagian besar warga meninggalkan kawasan pesisir setelah merasakan guncangan kuat dan menerima peringatan dini tsunami.
Kerusakan bangunan juga cukup luas. BNPB mencatat, 54 rumah rusak berat, 9 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan. Selain itu, 5 fasilitas kesehatan, 1 fasilitas pendidikan, 1 gudang Bulog, 3 fasilitas ibadah, dan 6 kantor pemerintahan mengalami kerusakan.
Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan signifikan. Sebanyak 29 rumah rusak berat, 9 rusak sedang, dan 9 rusak ringan. Di Manggarai Timur, 23 rumah rusak berat. Sedangkan Nagekeo mencatat 2 rumah rusak berat, 1 rusak sedang, dan 2 rusak ringan.
Kerusakan turut menyasar fasilitas transportasi. Di Pelabuhan Laurentius Say, Maumere, bagian dermaga dan ruang tunggu roboh saat KM Bukit Siguntang tengah bersandar. Pelabuhan Reo mengalami kerusakan kantor dan terminal, sedangkan Pelabuhan Nangakeo mengalami plafon runtuh dan tembok retak.
Gangguan juga terjadi di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Gedung PKP-PK, terminal sisi darat dan gedung administrasi terdampak, termasuk kerusakan ringan pada area fillet Taxiway A. Bandara tetap beroperasi dengan pembatasan.
Kekuatan gempa NTT menjadi sorotan karena lebih besar dibandingkan gempa yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026). Gempa Kolombia berkekuatan M7,4 dengan pusat di San José del Palmar dan kedalaman 107 kilometer.
Guncangan di Kolombia terasa hingga Venezuela, Ekuador, dan Panama. Hingga Kamis (11/8/2026), otoritas setempat mencatat 265 orang meninggal dunia dan 570 lainnya terluka. Sebanyak 1.575 rumah, 61 gedung, 18 pusat kesehatan, 52 fasilitas pendidikan dan 18 ruas jalan mengalami kerusakan. Sebanyak 37 rumah di antaranya hancur total. Pemerintah Kolombia kemudian menetapkan status darurat nasional.
Baca juga : Gibran Kukuhkan 76 Anggota Paskibraka
Secara magnitudo, gempa NTT lebih kuat 0,3 dibandingkan Kolombia. Namun, besarnya dampak tidak semata-mata ditentukan kekuatan gempa. Kedalaman, jarak episenter dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan dan kesiapsiagaan masyarakat turut memengaruhi tingkat kerusakan dan korban.
BMKG menyebut, gempa NTT merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Busur Belakang Flores. Mekanisme pergerakan sesar naik atau thrust fault menjadi penyebab kuatnya guncangan.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, kawasan tersebut memang memiliki sejarah gempa besar. “Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores,” kata Wijayanto.
BMKG mencatat, gempa M7,5 pernah mengguncang kawasan tersebut pada 1992 dan menimbulkan kerusakan serta tsunami. Sesar yang sama diperkirakan berpotensi menghasilkan gempa hingga kisaran M7,8-M7,9.
Aktivitas gempa susulan terus terjadi. Hingga pukul 08.00 WIB, BMKG mencatat 52 gempa susulan dengan magnitudo M3,6 hingga M6,2.
Karena pusat gempa berada di laut dan tergolong dangkal, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami dua menit setelah gempa utama, pukul 05.00 WIB. Status SIAGA dengan potensi tsunami 0,5 hingga 3 meter diberlakukan untuk Manggarai Utara, Ngada Utara, Ende, Flores Timur, hingga Jeneponto.
Peringatan tersebut kemudian terbukti dengan terdeteksinya tsunami kecil di sejumlah wilayah. Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB. Tsunami juga terpantau di Bulukumba 0,54 meter, Pelabuhan Kewapante 0,38 meter, Labuan Bajo 0,36 meter dan Bau-Bau 0,30 meter.
Setelah memantau tinggi muka laut secara berulang, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.31.30 WIB. Pengakhiran dilakukan setelah tidak ditemukan lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.
Meski peringatan dicabut, BNPB meminta masyarakat tetap menjauhi pantai untuk sementara. BNPB juga minta warta tidak memasuki bangunan yang retak atau rusak karena masih ada potensi gempa susulan.
Baca juga : Pemerintah Lakukan Refocusing, Anggaran MBG 2027 Sekitar Rp 240 Triliun
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan, wilayah utara Flores menjadi daerah dengan dampak paling besar. Wilayah terdampak antara lain Maumere, Ngada, Manggarai, dan pusat gempa di Nagekeo.
“Gempa di Mbay dampak terbesarnya ada di wilayah utara Flores, mulai Maumere, Ngada, Manggarai, serta pusatnya di Nagekeo,” kata Melki.
Ia menerangkan, Pemerintah masih melakukan pendataan kerusakan dan korban. Sejak pagi, dia menghubungi para bupati di wilayah Flores untuk mengetahui kondisi terkini di daerah masing-masing.
Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius kepada para korban gempa. Melki mengatakan, sejumlah menteri telah diperintahkan Presiden untuk meninjau langsung lokasi terdampak. Presiden juga meminta Pemprov NTT segera memastikan data agar distribusi bantuan dapat dilakukan tepat sasaran.
Melki menyatakan, fokus awal Pemerintah Daerah adalah mengevakuasi korban ke tempat yang lebih aman. “Saya minta agar toko-toko supermarket di lokasi bencana bisa membagikan makanan kepada para korban, dan Pemerintah akan mengganti rugi,” ujar Melki.
Pemerintah pusat langsung melakukan koordinasi setelah menerima laporan gempa. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan dukacita kepada keluarga korban dan memastikan penanganan dilakukan bersama kementerian dan lembaga terkait.
Prasetyo mengatakan, kejadian tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo. Koordinasi dilakukan dengan Menko PMK, Basarnas, BMKG, dan Pemerintah Daerah.
Pemerintah juga meminta pencarian korban segera dilakukan, terutama di lokasi reruntuhan bangunan dan pelabuhan di Maumere. Bantuan dari Pemerintah pusat disiapkan apabila diperlukan.
“Tadi dilaporkan beberapa yang masih ada di reruntuhan, dan beberapa bangunan rusak, termasuk ada pelabuhan di Maumere. Kami minta untuk segera dicek apakah ada korban,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.