Sebelumnya
Anak-anak yang stunting akan mempunyai kemampuan kognitif yang lebih rendah, rentan terhadap penyakit tidak menular dan ketika dewasa mempunyai produktifitas yang lebih rendah.
Hal ini tentu saja dalam jangka panjang akan merugikan Indonesia sebagai Bangsa dan Negara.
“Konvergensi adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi seringkali tidak mudah untuk diwujudkan. Untuk mewujudkannya diperlukan upaya keras dari kita semua. Setiap Lembaga yang terlibat tolong hilangkan ego sektoral, karena konvergensi membutuhkan kerjasama antar pihak,” tegas Wapres.
Wapres menambahkan, konvergensi dalam pencegahan stunting harus diwujudkan dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga ke tingkat Desa.
Baca juga : Soal UU Ciptaker, Bos Hipmi: Pemerintah Sudah Ada Di Jalan Yang Tepat
Langkah awal untuk menciptakan konvergensi adalah perlunya dilakukan analisis situasi dan pemetaan program yang selama ini ada di Kabupaten/Kota dan Desa.
Analisis situasi dan pemetaan ini, menurut Wapres sangat penting agar Pemerintah Daerah mengetahui kondisi riil di lapangan dan program apa yang sudah ada dan belum ada.
Dari hasil analisis situasi dan pemetaan ini kemudian dapat diketahui kondisi rill di lapangan dan program/kegiatan yang harus dilakukan.
Dengan melakukan pemetaan, tumpang tindih antar program dapat dihindari dan program yang dibutuhkan tapi belum tersedia dapat diidentifikasi.
Baca juga : Satu Tahun, Pemerintah Fokus Tangani Covid-19
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan Persoalan stunting menjadi tantangan dalam pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas, mengingat angka kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi, yakni 27,67 persen.
Presiden Joko Widodo sendiri telah menargetkan angka stunting pada 2024 turun hingga 14 persen. Oleh karena itu, kata dia, perlu langkah di luar kebiasaan atau extraordinary untuk mencapai target yang ambisius itu.
Menurut Muhadjir, bila permasalahan stunting tidak diselesaikan tuntas, maka akan terus ada angkatan kerja Indonesia yang mantan stunting.
Apalagi pada tahun 2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi.
Baca juga : Produksi Vaksin Covid-19 Masih Tergantung Sinovac
Menyambung Menko PMK, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan manusia adalah aset paling penting bagi suatu negara.
Dan persoalan stunting bukan persoalan ibu dari anak-anak itu sendiri, namun merupakan persoalan multi dimensi. Oleh karena itu pemerintah harus bekerjasama baik antar kementerian lembaga maupun daerah.
Menurutnya, Pandemi Covid-19 tentu memberikan tambahan kepada Indonesia tantangan yang tidak mudah.
"Oleh karena itu, saya berharap dalam kondisi dimana pandemi banyak sekali menyedot perhatian dan sumber daya kita, jangan pernah dilupakan investasi yang paling penting bagi Indonesia dan bagi generasi kedepan yaitu investasi untuk memperbaiki gizi anak-anak kita,” kata Sri Mulyani. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.