RM.id Rakyat Merdeka - Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK PhD menyoroti jumlah tes antigen yang acap kali lebih tinggi dari jumlah tes PCR. Bahkan, bisa berlipat jumlahnya.
"Ini adalah sesuatu yang terbalik. Tidak sesuai maksud dan penggunaan tes antigen sebagai cadangan dan pelengkap," kata dr. Tonang via laman Facebook-nya, Kamis (16/9).
"Penggabungan hasil tes antigen dan PCR membuat nilai positivity rate menjadi meragukan," imbuhnya.
Tonang menjelaskan, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan, angka positivity rate antigen tetap ikut dihitung secara terpisah.
Baca juga : Jubir Satgas Covid: Persentase Kesembuhan Pasien Corona Terus Meningkat
Tujuannya, untuk mendapatkan gambaran kondisi pasien yang terinfeksi secara lebih cepat dan cenderung di fase awal, dengan risiko penularan tertinggi.
Angka positivity rate PCR diperlukan untuk menunjukkan gambaran menyeluruh jumlah kasus, dengan tetap memiliki potensi penularan.
"Keduanya dipisah, agar masing-masing bisa digunakan datanya. Kalau digabung, datanya jadi kabur," terang Tonang.
Wakil Direktur RS UNS ini menuturkan, sebelum masuk Juni, kita cenderung terlena karena laporannya "sangat meyakinkan".
Baca juga : Aktivis Sebut Kantor Darurat Novel Cs Di Depan KPK Tidak Etis
Tes tinggi dengan angka positivity rate rendah, karena digabung antara tes antigen dan PCR. Tapi kemudian, kita kaget dengan kondisi Juni-Juli.
Lantas, bagaimana dengan kondisi saat ini?
"Dapat kita lihat, jumlah tes dilaporkan tinggi (padahal karena gabungan), angka kasus baru rendah sekali, angka positivitas (gabungan) dilaporkan rendah sekali. Tapi, jumlah suspek terus meningkat dari hari ke hari. Ini tidak wajar," ulasnya.
Seharusnya, kata Tonang, yang suspek itu menjadi prioritas agar segera menurun seminimal mungkin.
Baca juga : KPK Limpahkan Berkas Perkara Eks Dirkeu Dan Investasi Jasindo
Kalau PCR menjadi prioritas suspek, angka positivity rate berpeluang tinggi.
"Memang ada risiko itu. Kemenkes sudah benar. Bila positivity rate meningkat, maka jumlah tes PCR ditingkatkan. Karena itu, suspek dan kontak erat harus segera dipastikan statusnya. Yang positif, segera isolasi. Cegah penularan. Disusul tracing, lanjut testing lagi," jelas Tonang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.