BREAKING NEWS
 

Jubir Satgas Covid RS UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto, PhD

Tes Antigen Dan PCR Digabung, Nilai Positivity Rate Jadi Meragukan

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 17 September 2021 21:23 WIB
Ilustrasi hasil tes antigen (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
"Dalam kondisi ini, angka positivitas awalnya memang meningkat. Tapi kemudian akan turun. Itu kebijakan yang benar dari Kemenkes sebenarnya. Itu yang kita lihat terjadi di DKI, yang mirip dengan pola di India dalam hal meningkatkan jumlah testing menghadapi lonjakan kasus," lanjutnya.

Genjot Tes Mumpung Kasus Rendah

Mumpung kasus dilaporkan rendah, testing harus kita tingkatkan. Agar yang dilaporkan rendah itu benar-benar rendah.

"Tapi, kita tidak melakukannya. Kita justru menjadi kendor. Masyarakat abai, faskes juga ikut terlena. Banyak ruang perawatan covid ditutup. Dialihkan lagi untuk pasien non covid. Sehingga, ketika terjadi lonjakan mendadak, kita jadi ribet harus membuka kembali, menambah lagi," beber Tonang.

Baca juga : Jubir Satgas Covid: Persentase Kesembuhan Pasien Corona Terus Meningkat

Meskipun ada fase berat, sambungnya, dengan jumlah testing cukup, kita bisa "mengukur" besarnya pandemi dengan benar.

Lantas bagaimana ke depannya? Kita punya 800 lebih lab pemeriksaan PCR se Indonesia (data di laman Kemenkes per 13 September 2021).

Kemampuannya bervariasi. Ada yang hanya 100 an sampel per hari, ada yang 1.000 bahkan 1.500-2.000 sampel per hari.

"Bila sehari rata-rata tercapai 50 sampel per lab saja, sudah 40 ribu. Sudah cukup standar minimal Kemenkes. Tinggal kalau perlu, kita naikkan sesuai kebijakan Kemenkes. Untuk mencapai 5 kali lipat, berarti rata-rata 200 sampel per hari," papar Tonang.

Baca juga : Aktivis Sebut Kantor Darurat Novel Cs Di Depan KPK Tidak Etis

Tes Antibodi

Untuk mendapatkan gambaran seberapa besar pandemi, Tonang menyebut ada 2 jalur yang bisa ditempuh.

Tes PCR untuk mendeteksi yang SEDANG terinfeksi. Tes antibodi untuk mengukur seberapa yang PERNAH terinfeksi. Kalau dua-duanya dijalankan, maka datanya makin lengkap.

Wah, tes antibodi se-Indonesia, uangnya siapa?

Baca juga : KPK Limpahkan Berkas Perkara Eks Dirkeu Dan Investasi Jasindo

"Sebenarnya sih uangnya ada, kalau hanya untuk tes antibodi se-Indonesia. Lha wong tes-nya murah kok. Apalagi kalau massal, lebih murah lagi," tutur Tonang.

Menurutnya, tidak seluruh penduduk harus di-tes antibodi. Ada strategi dan mekanisme sampling-nya. Sama dengan melakukan survei pemilu dan pilkada.

"Tapi, harus benar-benar patuh dan disiplin terhadap kaidah metode penelitian. Supaya bisa diperoleh data yang akurat, seberapa banyak yang sudah pernah terinfeksi Covid," pungkasnya. [HES]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense