SARIF HIDAYAT
RM.id Rakyat Merdeka - Tangis belasan orang tua wali murid pecah. Hampir semuanya menangis. Sedih sekolah Taman Kanak-kanak (TK), tempat anaknya belajar harus ditutup, pertengahan bulan Ramadan lalu.
Penyebabnya jumlah muridnya terus menurun. Biaya operasional tidak sebanding dengan pemasukan. Saya dan istri termasuk yang bersedih karena anak saya yang paling kecil terpaksa harus berhenti sebelum lulus.
Baca juga : Negeri Tanggap Bencana
Para ibu-ibu itu bersedih bukan semata-mata karena harus merogoh kocek untuk mencari sekolah baru. Tetapi, kesulitan menemukan sekolah sebagus itu dengan biaya terjangkau. TK itu memakai sistem kurikulum internasional. Mengadopsi metode kurikulum negeri Tetangga, Singapura. Sepintas kurikulim terlihat berat. Tetapi kenyataannya tidak.
Siswa sangat menikmati. Tak cuma fun, orang tua juga happy, karena tidak perlu lagi harus keluar biaya untuk les bahasa asing. Karena, percakapan di sekolah sudah menggunakan bahasa Inggris. Tak Cuma itu, juga dikenalkan bahasa China. Lengkap.
Baca juga : Menikmati Perbedaan
Saya cukup mengenal sekolah itu. Karena anak pertama saya dahulu juga sekolah di tempat yang sama. Pandangan subjektif saya, jumlah murid baru menurun karena kalah melakukan promosi dengan pesaingnya.
Dari penampilan, gedung sekolah TK sederhana. Hanya berupa rumah di tepi jalan. Jika dibandingkan dua pesaingnya di sekitarnya tidak ada apa-apanya. Dua pesaingnya sebut saja GI dan TI, sangat megah. Gedung sekolah GI, ukurannya 10 kali lebih besar. Lengkap dengan berbagai fasilitas. Dan, gedung sekolah TI, tiga kali lebih besar. GI dan TI juga rajin promosi besar-besaran. Mereka pandai melakukan pencitraan.
Anak pertama saya sempat sekolah di GI sebelum pindah ke TK yang kini sudah bubar itu. Waktu belajar di GI, sebagai orang tua, saya kecewa, metode mendidik dan hasil yang didapatkan di bawah ekspektasi. Jika dibandingkan, hasil belajar dari sekolah yang sudah bubar itu, sangat jauh.
Dari kisah ini, saya menarik kesimpulan, sesuatu yang kelihatan bagus sejatinya isinya belum tentu baik. Yang kelihatan jelek, belum tentu tidak bagus. Semoga jadi pelajaran. Karena politik pencitraan tidak hanya ada di dunia politik tetapi bisa marangsek ke mana-mana. ***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.