RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Darori Wonodipuro mengkritisi pertumbuhan sektor pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Sumbawa, yang tidak menunjukkan perkembangan signifikan selama dua tahun terakhir.
"Data pertanian di Sumbawa kurang bagus. Makanya, perlu ditingkatkan," kata Darori di Jakarta, Jumat (30/10).
Diketahui, pemerintah pusat menetapkan Kabupaten Sumbawa menjadi lumbung pangan jagung. Jagung pun menjadi komoditi strategis Kabupaten Sumbawa hingga petani beramai-ramai menanam jagung. Hal ini dapat dilihat dari luas lahan yang dimanfaatkan petani untuk menanam jagung.
Darori mengatakan, permasalahan pertanian di daerah Indonesia karena disebabkan faktor irigasi dan pengairan sehingga mempengaruhi masa panen.
Darori mengingatkan pemerintah pusat dan daerah segera memperhatikan pembangunan waduk untuk menyimpan air, supaya bisa dua kali panen selama setahun di Sumbawa yang dikenal tergantung musim.
Baca juga : Angkasa Pura I Layani 103.506 Penumpang Di Hari Pertama Libur Panjang Maulid Nabi
Diungkapkan Darori, Sumbawa memiliki sungai yang pendek. Akibathya, air akan cepat mengalir ke laut ketika terjadi hujan.
"Yang dibutuhkan pertanian itu kan air. Bagaimana bisa maju pertaniannya kalau airnya tidak ada. Makanya perlu ditingkatkan lagi," ujar Darori.
Darori menekankan pemerintah daerah harus meningkatkan sektor pertanian agar tidak mengecewakan para petani.
Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbawa Agus Alwi mengakui, dalam lima tahun terakhir produksi jagung meningkat. Namun, untuk dua tahun belakangan ini hasilnya stagnan.
"Komoditi masih dari jagung, untuk 2 tahun belakangan ini relatif stagnan meskipun naik dibanding lima tahun lalu," tutur Agus.
Baca juga : Jokowi Apresiasi Pengabdian, Perjuangan, Dan Pengorbanan Para Dokter
Sektor pertanian pun relatif masih berjalan biasa di saat pandemi Covid-19. "Ya terdampak juga ada dari pandemi ini," katanya.
Perkembangan areal jagung NTB terus meningkat. Berdasarkan data BPS sampai April 2019 realisasi mencapai 130.617 hektare atau 74,98 persen.
Bila ditambahkan dengan data Rekapitulasi tingkat Kabupaten/Kota sampai Juli, maka realisasi tanam jagung NTB mencapai 194.071 hektare atau mencapai 111,40 persen dari target 174.211 hektare.
Sementara Luas tanam jagung di kabupaten Sumbawa 49.847 hektare (2015), meningkat pesat pada 2018 menjadi 114.259 hektare. Tren ini terjadi karena harga jagung relatif lebih baik dari harga padi.
Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika berpendapat, Covid-19 mengakibatkan produksi livebird atau unggas berkurang hingga 50 persen.
Baca juga : Menteri Sosial Dipuji DPR
Artinya, kebutuhan jagung juga berkurang 50 persen namun produksi tetap. Sehingga mendadak terjadi over supply dan akhirnya harga jatuh.
Dikatakan Yeka, petani jagung yang mendemo Pemerintah Kabupaten Sumbawa sudah benar.
“Bupati memiliki tugas dalam menjalankan amanah konstitusi, terutama menjamin setiap warga negara memperoleh pendapatan yang layak. Jika gagap seperti ini, artinya pemerintah daerah lengah mengantisipasi penurunan harga produk pertanian saat pandemi,” tuturnya.
Yeka mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa perlu menyediakan dryer dan gudang dan menerapkan pelaksanaan resi gudang. Dengan adanya resi gudang, jagung petani dapat diserap dulu dan dilepas saat harga sudah membaik.
“Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga perlu membangun kerja sama langsung dengan industri feedmill, manfaatkan jaringan untuk buat harga kontrak dengan jaminan kepastipan pasokan bahan baku,” tuturnya. [REN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.