BREAKING NEWS
 

DPR Bentuk Panja Pemulihan Pariwisata

Pariwisata Babak Belur, Butuh Langkah Luar Biasa 

Reporter : SHAHIH QARDHAVI
Editor : SARIF HIDAYAT
Selasa, 1 Desember 2020 12:47 WIB
Anggota MPR Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian (tengah) saat menjadi narasumber secara daring diskusi tentang pemulihan pariwisata, di DPR, Senin (30/11).

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota MPR Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian menilai, sektor pariwisata terdampak cukup berat akibat pandemi Covid-19. Banyak pelaku usaha  kehilangan pendapatannya akibat drastisnya penurunan tingkat kunjungan wisatawan baik domestik dan manca negara.

Kondisi tersebut, lanjutnya, makin parah dengan rusaknya berbagai infrastruktur seperti hotel, penginapan, situs-situs wisata karena minimnya pemeliharaan akibat pemasukan yang berkurang. Hal tersebut mengakibatkan dpelaku usaha pariwisata  kesulitan memenuhi biaya operasional termasuk gaji karyawan.  Sehingga, banyak terjadi PHK dan penutupan tempat usaha.

Hetifah mengaku bersyukur kebijakan pelonggaran Pembatasan sosial Berskala Besar (PSBB) mulai mendorong  kinerja sektor pariwisata Indonesia.

   “Untuk mempercepat bangkitnya pariwisata nasional, saya rasa perlu upaya-upaya luarbiasa dari pemerintah didukung DPR. Alhamdullilah, sekarang sudah ada upaya tersebut antara lain Komisi X DPR membentuk Panja Pemulihan Pariwisata dan bantuan-bantuan dari pemerintah terutama untuk usaha kecil,” kata Hetifah  dalam acara Diskusi Empat Pilar dengan tema, Kebangkitan Pariwisata Nasional dari Pandemi Covid-19 Sebagai Pondasi Ekonomi Nasional, kerja sama MPR dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, di Media Center MPR/DPR, lobi Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Senin (30/11).

Baca juga : Lagi Pandemi, Petani Sawit Minta Bea Keluar Dinolkan

Hadir dalam acara yang mematuhi protokol kesehatan secara ketat tersebut anggota MPR Fraksi Demokrat Dede Yusuf  Effendi sebagai narasumber, Sekretaris Deputi Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Hariyanto sebagai narasumber, dan Penulis buku Naked Traveler Series Trinity juga sebagai narasumber.

  Hetifah mengungkapkan bahwa dirinya sempat kaget ketika pemerintah mengusulkan dan kemudian disetujui DPR, tentang perubahan anggaran Kemenparekraf yang awalnya sebesar Rp5,36 triliun dipangkas sebanyak Rp2,04 triliun, dan naik lagi menjadi sebesar Rp3,26 triliun untuk penanganan virus Corona.

"Saya  bisa bernafas lega, dalam rapat kerja pemerintah dan Komisi X DPR, September 2020 lalu, di tetapkan anggaran Kemenparekraf tahun 2021 sebesar Rp 4,9 triliun. Ini angin segar buat pariwisata nasional,” terangnya.

Adsense

Sementara, Dede Yusuf menilai, pariwisata nasional sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti ketika PSBB diberlakukan secara ketat, rakyat seperti ‘terkurung’ di rumahnya sendiri. 

Baca juga : Persatuan Wanita Patra Berikan Beasiswa Bagi Anak Dhuafa Di Cilacap

“Tapi, begitu PSBB dilonggarkan yang dicari rakyat adalah tempat wisata,” tambahnya.

Fenomena tersebut, lanjut Dede Yusuf, dampaknya sangat besar bagi dunia pariwisata di daerah-daerah yang sebelumnya sepi wisatawan, menjadi kebanjiran para pelancong. 

“Yang unik adalah kebanyakan yang membanjiri daerah wisata itu adalah wisatawan domestik bahkan di Bali, jarang sekali turis asing. Keunikan lainnya adalah, tiba-tiba banyak muncul destinasi-destinasi wisata baru sampai ke pelosok-pelosok daerah,” ujarnya.

Melihat fakta tersebut, Dede Yusuf berharap agar seraya terus menangani pandemi, pemerintah juga harus fokus kepada pengelolaan wisatawan lokal dan penggalian potensi destinasi wisata baru dalam upaya membangkitkan kembali pariwisata nasional.

Baca juga : Pengembangan Bandara Pendukung Pariwisata Likupang Capai 62,7 Persen

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Deputi Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hariyanto mengingatkan bahwa dunia pariwisata Indonesia adalah mata rantai kehidupan, banyak sekali kegiatan ekonomi dan industri yang bergantung di situ, mulai dari pesan tiket, transportasi, penginapan, kuliner, jasa dan lainnya.

“Dan ketika semua kegiatan ekonomi itu terganggu karena pandemi, maka akan menganggu kontribusi sektor pariwisata dalam penguatan pondasi perekonomian nasional. Lalu, sekarang bagaimana kita mengelola pariwisata nasional bertahan di tengah pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini,” tambahnya.

Menjawab pertanyan besar tersebut, Hariyanto mengungkapkan Kemenparekraf melihat kondisi pandemi ini menjadi momentum tepat untuk membuat pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi lebih baik dengan melakukan re-strategy dan mengubah pola pikir pariwisata dari quantlty tourism ke quality tourism. 

“Langkah selanjutnya, Kemenparekraf akan membuat standarisasi baru kualitas pariwisata nasional yakni kegiatan pariwisata secara keseluruhan harus mengacu dan memenuhi standar yang ditetapkan yakni soal kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan," pungkasnya.QAR

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense