BREAKING NEWS
 

Soal Audit Bulog, DPR Serahkan Ke BPK

Reporter : IRANDI KASMARA
Editor : WAHYU SURYANI
Kamis, 25 Maret 2021 23:35 WIB
Anggota DPR Daniel Johan/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog hasil impor tahun 2018 hingga 2019, masih menumpuk sebanyak 859.877 ton. Hal ini berpotensi mengakibatkan kerugian hingga Rp 1,25 triliun. Apalagi beras terancam tidak layak konsumsi karena mutunya turun.

Berbagai pihak mendorong agar Bulog diaudit. Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan menyerahkan masalah audit ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 

“Kita serahkan ke hasil pemeriksaan BPK. Tapi memang semua BUMN kan harus diaudit," ujar Daniel kepada wartawan, Kamis (25/3).

Diungkapkan dia, Dirut Bulog Budi Waseso di hadapan Komisi IV juga telah mengakui akan adanya potensi kerugian keuangan negara tersebut. Dan jumlahnya tidak sedikit.

Baca juga : Soal Isu Bahaya BPA Galon Guna Ulang, GAPMMI Sarankan Masyarakat Ikuti Pedoman BPOM

Daniel menyebut, jika 300 ribu ton beras yang gagal jual, kemudian harga per kilo sekitar Rp 8.000, maka potensi kerugian sudah mencapai Rp 2,4 triliun.

"Makanya jangan ulangi kesalahan yang sama. Itu bukan uang APBN, tapi utang bank dengan kredit komersial. Harus benar-benar dihitung dengan baik," Daniel mengingatkan.

Adsense

Sebelumnya, Ombudsman dalam konferensi pers virtual, Rabu (24/3) kepada wartawan mengatakan, stok beras di Bulog saat ini banyak diisi oleh beras yang kualitasnya sudah menurun. Nilainya hampir 50 persen dari stok beras secara keseluruhan. 

"Beras turun mutu di gudang Perum Bulog salah siapa? Nilainya besar, terdapat sekitar 300-400 ribu ton beras yang ada di gudang Bulog saat ini turun mutu dan berpotensi mengalami kerugian. Jika setengahnya saja sudah nggak layak konsumsi, maka potensi kerugian negara Rp 1,25 triliun," beber Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika.

Baca juga : Jaga Soliditas, KNPI Rencanakan Kongres Bersama

Sementara, Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi juga pernah mengungkap kegagalan Bulog menyerap gabah, menjadikan para petani harus menjual hasilnya kepada para tengkulak.

"Sehingga ada titik waktu bagi para petani kecil yang memiliki kekosongan keuangan, karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar," kata Dedi.

Selain itu, daya serap Bulog juga tergolong rendah. Kerap kali harga beli Bulog juga lebih rendah dari tengkulak. 

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram.

Baca juga : Rontok! Serangan Ke Ketum Demokrat

Bulog juga tidak mampu menjual beras ke pasaran. Alhasil, beras-beras yang tersimpan di dalam gudang mengalami penurunan mutu dan membusuk. Itu berbarengan dengan tidak adanya teknologi yang apik untuk menyimpan. [REN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense