RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pandangannya tentang situasi kebangsaan dan dunia saat ini. AHY me-warning, tentang bahaya kemunduran demokrasi di tengah pemulihan pandemi Covid-19 saat ini.
“Selain berdampak pada sisi kesehatan, pandemi juga telah menghadirkan tren kemunduran demokrasi,” ujar AHY, di Hotel Fairmont, Jakarta, kemarin.
Berbicara di acara bertajuk ‘Roundtable Discussion Bahas Geopolitik & Keamanan Internasional, Ekonomi Global & Perubahan Iklim’, AHY merincikan, kemunduran demokrasi itu dapat dilihat dari sejumlah indikator.
Baca juga : Malaysia Bersiap Gelar Pemilu Dini
Di antaranya, menguatnya praktik resentralisasi kekuasaan, politik populisme, eksploitasi politik identitas, menurunnya kebebasan sipil, hingga melemahnya prinsip transparansi dan akuntabilitas tata kelola Pemerintahan di berbagai negara.
“Pandemi juga masih menyisakan tekanan ekonomi yang ditandai masih lemahnya daya beli masyarakat, belum normalnya neraca perdagangan, dan juga investasi global,” lanjut AHY.
Alhasil, situasi ini telah menghadirkan ketidakpastian dantekanan besar terhadap tatanan ekonomi-politik global. Situasi ini, menghadirkan kecemasan, bahkan ketakutan atas berbagai tantangan, ujian, disrupsi, dan krisis multidimensi dewasa ini. “Tentu ini harus menjadi perhatian kita semua yang masih memiliki keinginan dan harapan atas dunia yang lebih baik,” ungkapnya.
Baca juga : PM Ismail Sabri Bubarkan Parlemen, Pemilu Malaysia Segera Digelar
Kondisi dunia diperparah hadirnya invasi Rusia ke Ukraina, yang kini seolah menjadi epitome atau lambang penggunaan kekuatan militer dalam menyelesaikan konflik geopolitik di daratan Eropa.
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) ini juga membaca geopolitik internasional lainnya. Yaitu tentang relasi Tiongkok dengan Amerika Serikat yang semakin meruncing. Utamanya, tentang sengketa Laut Cina Selatan dan juga kedaulatan teritorial Taiwan.
Peristiwa ini, melahirkan pakta pertahanan baru, yaitu Australia, United Kingdom dan United States of America (AUKUS) yang sering dibaca masyarakat internasional sebagai rebalancing strategy Barat terhadap Tiongkok.
Baca juga : BPBD Evakuasi Warga Jakarta Terdampak Banjir Ke Pengungsian
AHY juga menjelaskan jika perang Rusia dan Ukraina yang berada jauh di Eropa Timur, bisa memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi dunia, apa yang terjadi jika ancaman perang itu benar-benar pecah di Asia Timur, yang jauh lebih dekat dengan kita. Baik dekat secara geografis, dekat secara emosional, dan juga dekat secara relasi ekonomi dan perdagangan.
“Karena itu, ini menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia untuk terus mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan. Pengalaman Ukraina adalah pelajaran yang sangat berharga, jangan sampai semua itu terjadi di sekitar kita,” pungkasnya. ■BSH
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.