Sebelumnya
Namun, Sekjen PSI Raja Juli Antoni menilai, sebaiknya tidak semua partai masuk dalam gerbong pemerintahan mendatang. Dia berharap 1 atau 2 partai tetap berada di luar pemerintahan. Sebab, demokrasi yang baik membutuhkan koalisi dan oposisi untuk saling mengoreksi jalannya pemerintahan.
“Kalau saya boleh sarankan secara pribadi tetap sangat baik apabila ada satu atau dua partai partainya kalau berada di luar,” ujar Raja Juli.
Sementara itu, Ketua Majelis Syuro PBB Masrur Anhar menganggap wajar jika partai non-koalisi ingin merapat ke Prabowo. Terpenting, kata dia, Prabowo dapat memberikan prioritas kepada PBB yang telah mendukung sejak awal.
Baca juga : Setelah Kalah Pilpres, Anies Mau Rehat Dulu
“Semoga partai yang telah bekerja keras seperti PBB tidak terlupakan. Jangan sampai yang sebelumnya berseberangan malah mendapat jatah posisi di pemerintahan sementara yang telah bekerja keras dilupakan begitu saja,” ujar Masrur di DPP PBB, Jakarta, kemarin.
Masrur menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan berkurangnya jatah kursi PBB karena bergabungnya partai non-koalisi. Namun, ia percaya Prabowo-Gibran akan secara proporsional menentukan pembentukan kabinetnya. “Semoga ada pembagian yang adil,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai ketidakhadiran Prabowo ke acara halal bihalal yang digelar PKS, bukan berarti partai tersebut ditolak masuk ke koalisi Prabowo. Kata dia, mungkin saja masih ada komunikasi yang belum selesai dan harus dituntaskan terlebih dahulu.
Baca juga : Ngarep Lolos Ke Senayan, PPP Berusaha Keluar Dari Lobang Jarum
“Mungkin ini masih perlu lobi-lobi ke depan antara kedua belah pihak untuk saling menjajaki kebersamaan dalam koalisi ke depan,” kata Ujang saat dikontak, Sabtu.
Menurut Ujang, PKS tampaknya sudah siap untuk bergabung. Menurut dia, tak aneh. Karena Prabowo dan PKS punya kedekatan. PKS sudah dua kali mengusung Prabowo sebagai capres di 2014 dan 2019. Melihat kedekatan tersebut, terbuka peluang bagi PKS untuk merapat ke kubu pemerintah.
Dengan situasi ini, tinggal PDIP yang masih belum menentukan sikap. Dengan usaha PKS yang gigih mendekati Prabowo, kata dia, PDIP bisa terancam sendirian di luar Koalisi pemerintah.
Baca juga : Soal Kursi Menteri, Paloh Tahu Diri
“Kalau saya melihat seperti itu. Kebatinan PDI Perjuangan seperti itu tampak siap jadi oposisi. Nah, ini kelihatannya,” kata Ujang.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu, 28 April 2024 dengan judul PKS Atur Jadwal Ketemu Prabowo, Banteng Terancam Ditinggal Sendirian
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.