RM.id Rakyat Merdeka - Presiden ke-7 RI Jokowi mulai tancap gas mengangkat pamor Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sinyal itu menguat saat ia hadir dalam kirab budaya PSI di Kota Tegal, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026).
Sejak pagi, Jalan Pancasila hingga Alun-Alun Kota Tegal dipadati warga. Ratusan orang berdesakan, mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen. Antusiasme terlihat jelas, senyum mengembang, teriakan memanggil nama Jokowi bersahutan.
Di tengah kerumunan, Jokowi tampil dengan kemeja putih dan topi senada. Di sampingnya berdiri Wakil Ketua Umum PSI Isyana Bagoes Oka. “Pak Jokowi, Pak Jokowi!” teriak warga.
Meski tak lagi menjabat presiden, Jokowi tetap mempertahankan gaya populernya. Ia membagikan kaus dari dalam mobil sebelum turun menyapa warga lebih dekat. Senyum dan lambaian tangan tak lepas dari sorotan kamera.
Sementara itu, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep tampil mencolok di atas kendaraan hias menyerupai panggung berjalan. Ia mengenakan busana hitam berornamen gajah putih dan merah, lengkap dengan topi unik berbentuk kepala gajah—simbol baru PSI.
Baca juga : Besok Sidang Isbat, Semoga Puasa Barengan
Arak-arakan membawa replika perahu besar dengan figur gajah sebagai penanda kekuatan dan identitas baru partai. Kaesang bersama kader menyapa warga dari atas replika tersebut sebelum akhirnya turun dan berjalan di tengah jalan raya, memberi salam dengan kedua tangan dirapatkan di depan dada.
Tak lama kemudian, Kaesang turun dan berjalan di tengah jalan raya. Ia merapatkan kedua tangan di depan dada memberi salam kepada masyarakat. Di sekelilingnya, sejumlah pengawal serta tokoh lokal mengenakan batik dan pakaian tradisional.
Tak hanya parade, panitia juga membagikan lima gunungan hasil bumi kepada masyarakat. Langkah itu diklaim sebagai bentuk kepedulian di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Intinya ini pengenalan PSI ‘Gajah’. Kami juga membagikan gunungan hasil bumi untuk masyarakat,” ujar Ketua DPD PSI Kota Tegal, Yusuf Al Baihaqi.
Baik Jokowi maupun Kaesang tidak memberikan pernyataan resmi kepada media seusai acara. Keduanya langsung meninggalkan lokasi.
Baca juga : Mustolih Siradj: Yang Terpenting Adalah Pendataan
Sebelumnya, Kaesang menegaskan kirab budaya merupakan strategi sosialisasi partai dengan pendekatan membumi dan dekat tradisi lokal. PSI ingin memastikan aktivitas politik tetap sejalan dengan akar kebudayaan masyarakat.
“Kami ingin hadir dengan cara yang menyenangkan, terbuka, dan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal. Politik harus bisa berjalan seiring dengan kebudayaan, bukan meninggalkannya,” ujar Kaesang.
Selain sosialisasi, kirab juga diharapkan memberi dampak ekonomi melalui pelibatan UMKM dan seniman lokal. Sehari sebelumnya, pengurus PSI turut menyalurkan bantuan kepada korban bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal.
Peneliti senior Citra Institute, Efriza, menilai kehadiran Jokowi merupakan sinyal politik yang terang. “Ini bentuk perwujudan simbol Jokowi sudah bersama dengan PSI secara gamblang,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, semalam.
Menurut Efriza, efek “ekor jas” Jokowi berpotensi mendongkrak citra dan legitimasi PSI. Tidak hanya di kalangan pemilih muda dan rasional, tetapi juga pemilih tradisional yang memiliki kedekatan emosional dengan mantan presiden tersebut.
Baca juga : Dahnil Anzar Simanjuntak: Ini Opsional Untuk Lindungi Jemaah
Namun, ia mengingatkan, keberhasilan partai tak cukup bertumpu pada figur. Struktur partai, strategi politik yang menyentuh rakyat, serta isu yang relevan tetap menjadi penentu utama.
“Jika mampu menghadirkan identitas sebagai partai modern, bukan sekadar partai ‘keluarga Jokowi’, PSI berpeluang menjadi kekuatan baru di panggung politik nasional,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.