Sebelumnya
Ia mencontohkan Pilpres 2014. Saat itu Jokowi menjadi pemenangnya dengan koalisi yang ramping. Begitu juga dengan Pilpres 2004, Susilo Bambang Yudhoyono juga menjadi pemenangnya dengan minimnya dukungan parpol.
Di Sumut sendiri, Adi menyebut semua tergantung dari koalisi yang dibangun PDIP. Apakah calon yang akan dimajukan punya elektabilitas, kompetitif, solid, yang bisa menandingi Bobby.
“Kalau sosoknya itu punya penetrasi, punya solidaritas, dan tim yang mantap, saya kira sekalipun koalisinya semut masih ada harapan,” pungkasnya.
Baca juga : Prabowo Disiplin Dan Pruden Kelola Fiskal
Jokowi Soal Koalisi Bobby
Presiden Jokowi menanggapi sindiran soal banyaknya koalisi besar pendukung Bobby. Kata dia, dukungan politik yang diberikan banyak partai kepada menantunya itu, tak ada hubungan dengan dirinya.
“Tanyakan partai-partai. Partai itu pinter-pinter, biasanya yang dilihat elektabilitas,” kata Jokowi di Lampung, Kamis (11/7/2024).
Baca juga : Divonis 10 Tahun, SYL Menerima, Juga Protes
Menurutnya, setiap parpol pasti memiliki pertimbangan dalam mengusung jagoan di Pilkada. “Yang dilihat biasanya elektabilitas. Partai itu pinter-pinter, apalagi ketuanya,” tegasnya.
Ketua Umum Partai PAN yang juga Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang berada dekat Jokowi ikut menimpali. Kata dia, partai politik, termasuk PAN, akan memilih calon yang berpotensi menang.
“Kita pilih yang menang dong,” kata Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan.
Baca juga : Hery Targetkan BSI Masuk Top 3 Bank Syariah Global
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Jumat, 12 Juli 2024 dengan judul Di Pilgub Sumut, Banteng Merasa Seperti Semut
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.