BREAKING NEWS
 

Antara Utang & Pembangunan

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Jumat, 23 Agustus 2024 00:24 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Diskusi tentang utang Pemerintah sedang ramai. Terutama terkait dengan rencana pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka akan menarik utang baru sekitar Rp 775 triliun di awal 2025. Di saat yang sama, pada 2025, aka nada utang jatuh tempo sebesar Rp 800 triliun.

Hal ini membuat sebagian pihak gusar dan cemas: siapakah yang akan bayar utang yang semakin besar ini? Belum lagi dengan terus bertambah bunga atas utang itu, semakin tenggelam saja negeri ini di lautan utang.

Apakah seburuk itukah nasib bangsa ini ke depan? Kalau kurang baca, kita maka akan panik ketika mendengar terus meningkatnya angka-angka utang Pemerintah.

Baca juga : Semoga Rupiah Terus Gagah

Langkah Pemerintah berutang ini merupakan makanan empuk lawan politik. Fakta ini digoreng dan dikesankan sebagai bentuk kegagalan negara dalam mengelola keuangan dan aset negara. Gorengan ini juga cukup ampuh membakar emosi masyarakat. Buktinya, banyak rakyat kita yang termakan gorengan isu ini.

Adsense

Rakyat tidak salah dengan persepsi seperti itu. Sebab, dalam pengetahuan umum di kehidupan sehari-hari rakyat, ketika seorang berutang, itu pertanda yang bersangkutan miskin atau sedang bangkrut. Utang tersebut juga akan menjadi beban berat. Apalagi pinjamnya ke rentenir atau pinjaman online alias pinjol, yang suka mematok bunga mencekik.

Butuh penjelasan panjang kenapa bangsa ini harus tenang walau banyak utang. Pertama, berutang itu bukan berarti negeri ini miskin. Berutang itu hanya soal likuiditas. Negara ini perlu uang tunai untuk membayar biaya kegiatan pembangunan, jaring sosial, dan sebagainya. Sebagian harus dibayar di awal tahun. Padahal, di awal tahun, belum ada pemasukan untuk negara.

Baca juga : Spanduk Pilkada Yang Nggak Laku

Seiring berjalannya tahun anggaran, pendapatan negara dari pajak dan bukan pajak mulai masuk. Pemasukan itu bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan negara dan juga mencicil utang di awal tahun.

Selain itu, negara ini kaya dan punya harta kekayaan tidak bergerak yang perlu waktu untuk diubah bentuk jadi uang. Karena kaya, di negara ini banyak aset yang bisa dijaminkan dan dikapitalisasi jadi uang di masa yang akan datang. Uang utangan itu uang kita. Ini hanya soal manajemen cashflow saja. Negeri ini punya kemampuan untuk bayar.

Apalagi uang utangan itu juga ada yang dipakai untuk investasi pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia. Selain kelak dibayarkan dengan hasil keuntungan infrastruktur tadi, juga dibayar dengan bergeraknya ekonomi masyarakat, karena terbuka akses ekonomi.

Baca juga : Mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan

Sumbangan pertumbuhan ekonomi itu tidak harus langsung. Banyaknya tidak langsung, akibat spending dana utangan untuk memperbaiki infrastruktur. Mekanisme ekonomi bergerak sendiri jika rakyat punya akses yang baik ke pusat-pusat ekonomi. Uang akan mengalir deras ke tempat yang aksesnya terbuka luas dan mudah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense