Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pertarungan di Pilkada 2024 akan sangat berpengaruh pada peta politik di Pilpres 2029. Untuk itu, tidak heran jika parpol-parpol terlihat sangat concern dalam mengatur strategi di Pilkada 2024. Tujuannya bukan cuma untuk menang saat ini, tetapi membuka jalan untuk diri sendiri sekaligus menutup jalan untuk orang lain di Pilpres 2029.
Salah satu pertarungan Pilkada yang menarik adalah Pilgub Jakarta. Meski dalam waktu dekat akan kehilangan statusnya sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta tetap menjadi salah satu ground battle dalam Pilpres 2029. Menang di Jakarta bisa menjadi modal untuk meraup suara besar di kantong-kantong gemuk, seperti Jawa Barat dan Banten.
Yang menjadi gubernur di Jakarta akan memiliki pesona besar. Pemberitaan untuknya akan lebih massif dibanding pemimpin-pemimpin daerah lain, mungkin termasuk juga Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara nanti. Sebab, sejauh ini, kantor-kantor berita besar masih ada di Jakarta. Para pakar, akademisi, influencer, dan aktivitas juga masih banyak tinggal di sekitar Jakarta.
Baca juga : Membatasi BBM atau Naikkan Harga
Atas dasar itu, parpol akan sangat berhati-hati dalam menentukan calon untuk Pilkada Jakarta. Parpol yang punya cita-cita pimpinannya manggung di 2029 tidak akan mau mencalonkan seseorang yang berpotensi menjadi “anak macan” di Pilpres 2029.
“Anak macan” biasanya memiliki potensi besar di Pilkada. Popularitas dan elektabilitasnya sudah sangat tinggi. Namun, “anak macan” akan tumbuh dengan cepat. Setelah tiga atau empat tahun, sudah berani melawan. Di tahun kelima, sudah bisa menerkam.
“Anak macan” ini tidak hanya ada di internal parpol. Bisa juga ada yang luar parpol. Namun, dari mana pun asalnya, bagi pimpinan parpol, “anak macan” ini sama bahayanya.
Baca juga : Rokok Eceran Bisakah Dibatasi?
Dengan potensi bahaya itu, beberapa pimpinan parpol akan berusaha menjegal “anak macan” tersebut untuk maju di Pilkada. Salah satu cara yang paling jitu adalah dengan memborong mayoritas parpol untuk mendukung calon yang lain. Ini adalah cara legal, karena tak dilarang oleh Undang-Undang.
Namun, seperti halnya Pilpres, Pilkada juga sering mendatangkan kejutan-kejutan besar. Bisa jadi, menjelang penutupan pendaftaran calon nanti akan muncul kejutan menggemparkan, yang tidak banyak diperhitungkan oleh orang. Termasuk juga oleh pimpinan parpol.
Untuk masyarakat umum dan para pendukung calon, tak perlu baper dengan pertarungan itu. Politik memang seperti itu. Kalau ingin calonnya menang, para pendukung juga harus punya strategi canggih yang bisa menandingi taktik para pimpinan parpol.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.