RM.id Rakyat Merdeka - Sebenarnya akar masalah bocornya anggaran negara sudah diketahui. Bahkan sudah sangat lama. Presiden Prabowo misalnya, menyebut ada lima sumber kebocoran anggaran negara.
KPK, ormas serta lembaga anti korupsi, juga sudah sering merilis penelitian mengenai pemberantasan korupsi. Jumlahnya tidak kurang. Bahkan menumpuk.
Sekarang tinggal memilih dan menentukan solusi terbaik, bahkan yang “radikal” sekalipun. Kemudian, implementasikan di lapangan secara konsisten dan tegas. Tanpa pandang bulu.
Tentu saja, dibutuhkan kemauan kuat serta langkah politik, melalui kebijakan konkret. Dan yang tak kalah pentingnya: keteladanan. Contoh konkret dari atas.
Baca juga : Kejenuhan Politik Atau Demokrasi?
Lima sumber kebocoran diungkapkan Presiden Prabowo saat memberikan pidato pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2024 di Jakarta, Kamis (28/11/2024).
“Kebocoran dari korupsi, judi online, penyelundupan, manipulasi, segala macam bentuk penipuan dan curang mencurangi, mengakibatkan kekayaan kita banyak yang hilang, sehingga tidak bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia,” tegas Presiden.
Dalam banyak kesempatan, Presiden juga menyinggung hal serupa, yakni tekadnya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Tekad ini perlu di dukung oleh semua pihak, semua peja bat di kementerian dan lembaga negara. Di segala lapisan. Dari pusat sampai daerah.
Karena itu, dalam waktu dekat, setelah identifikasi serta akar masalahnya diketahui, perlu segera dipastikan pelaksanaan solusinya berjalan baik, kontinu dan berhasil di lapangan.
Baca juga : 10 Persen Dan Marwah Kemenangan
Tentu semuanya sudah sangat tahu langkahlangkahtersebut.Sudah hafal di luar kepala. Namun, dari zaman Soemitro Djojohadikoesoemo, di era 80-an mengungkap keresahannya mengenai anggaran negara yang bocor sampai 30 persen, masalahnya tetap sama: pelaksanaan dilapangan.Sampai sekarang, kebocoran-kebocoran tersebut masih menjadi “penyakit” kronis bangsa ini.
Dari lima sumber kebocoran yang diungkap Presiden Prabowo, kita berharap, awal 2025,sudah terlihat Solusi konkret serta keberhasilannya.
Yang terlihat agak gaspol serta gercep,gerak cepat,sekarang baru pemberantasan judi online. Yang lainnya masih business as usual, sehingga perlu dipacu dan digeber supaya ikut berlari kencang. Gaspol dan gercep juga.
Bahkan dengan langkah-langkah “kecil”dan konkret seperti yang dilakukan Kementerian Agama misalnya, sudah cukup untuk memulai langkah-langkah besar selanjutnya
Baca juga : Meretas Jalan “Kaisar Ekonomi”
. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, akan memotong anggaran perjalanan dinas ke luar negeri sebesar 50 persen. Karena, menurutnya, dampak kunjungan tersebut hanya 0,5 persen.
Langkah ini mestinya langsung menjadi kebijakan di semua Kementerian dan lembaga, dan dijalankan konsisten serta kontinu.
Selanjutnya,langkah-langkahbesar, kebijakan konkret yang luar biasa, bahkan yang “out of the box” perlu dilakukan sesegera mungkin. Tentu saja, perlu dipastikan keberhasilannya di lapangan. Keteladanan dari semua pejabat, juga sangat penting.
Kalau kebocoran ratusan triliun rupiah tersebut bisa dicegah, anggaran untuk program makan siang bergizi misalnya, bukanlah persoalan sulit. Kita tunggu segera gaspol dan gercepnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.