Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Tingkat partisipasi di Pilkada serentak 2024 sangat rendah. Ada yang mengaitkannya dengan kejenuhan dan kelelahan demokrasi. Atau, ada penyebab lain?
Kondisi ini perlu diperjelas supaya tidak keliru mengambil kebijakan. Kelelahan berdemokrasi bukan berarti lantas melompat kepada sistem baru yang “bukan demokrasi”.
Bisa juga, minimnya partisipasi ini menggambarkan rakyat yang lelah dengan praktik dan permainan politik? Atau, dampak dari manuver para elite yang mengacaukan ring demokrasi untuk kepentingan pribadi dan kelompok? Atau, ada sebab lain.
Sistem demokrasi perwakilan misalnya, ada yang menilainya belum berhasil mewakili aspirasi rakyat secara optimal. Demo besar-besaran terkait beberapa keputusan legislatif beberapa waktu lalu, menggambarkan betapa tebalnya ketidakpercayaan tersebut, setebal besi ulir pagar DPR.
Kegagalan partai politik dalam mewakili dan menyalurkan aspirasi rakyat, juga menjadi faktor penting. Banyaknya oknum parpol yang terlibat korupsi, mempertegas ketidakpercayaan rakyat. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele.
Baca juga : 10 Persen Dan Marwah Kemenangan
Kalau kemudian “kesimpulannya” bahwa para kepala daerah sebaiknya dipilih oleh DPRD, seperti salah satu wacana yang berkembang saat ini, bukankah ini “obat” yang keliru? Bukankah ini ibarat orang yang tidak tepat memberikan obat yang salah?
Penyebab rendahnya tingkat partisipasi di Pilkada Jakarta atau Sumut misalnya, tentu berbeda dengan daerah lain. Karena penyebab “lemah-letih-lesu” ini tidak sama, maka “obatnya” tentu berbeda.
Kondisi ini perlu segera dicari “obatnya” supaya bangsa ini bisa menghasilkan demokrasi yang produktif, bijak dan tepat. Supaya bangsa ini tidak terus menerus terjebak dalam “demokrasi seolah-olah” yang menyita energi dan biaya.
Kejenuhan serta kelelahan itu tergambar dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU). Disebutkan, partisipasi pemilih (rata-rata nasional) dalam Pilkada serentak 2024 tak sampai 70 persen.
Dari data tersebut, partisipasi tertinggi ada di 81 persen. Terendahnya, 54 persen. Pilkada Jakarta bahkan memecahkan rekor partisipasi terendah: hanya 57,6 persen.
Baca juga : Meretas Jalan “Kaisar Ekonomi”
Sumut lebih rendah lagi, hanya 55,6 persen. Bandingkan dengan rata-rata partisipasi nasional di Pilpres, Februari 2024, yang tercatat di angka 80 persen.
Katakankah, jumlah 40-an persen yang tidak berpartisipasi ini mengusung calon sendiri, melawan dua atau tiga pasangan lainnya, maka peluang menang yang 40-an persen sangat besar.
Rendahnya tingkat partisipasi ini tentu bukan karena sekadar malas ke TPS, karena hujan, atau karena minim informasi. Bahkan, bisa jadi, mereka justru sangat mengerti kondisi dan permainan politik. Mereka tidak berpartisipasi karena memiliki pertimbangan matang dan cerdas. Mereka merasa “dibodohi” oleh trik yang sudah diketahui umum.
Atau, “kelelahan berpolitik” ini bisa juga karena Pilpres dan Pilkada digelar serentak di tahun yang sama? Ibarat lari marathon beruntun yang ujungnya tidak terlihat, terasa sangat jauh dan lama. Sangat melelahkan.
Karena itu, dibutuhkan penyegaran, penyehatan serta revitalisasi demokrasi dan politik praktis. Bukan malah sebaliknya, “membajak” dan menurunkan kualitas demokrasi untuk kepentingan pendek-sesaat.
Baca juga : ``Vitamin Pilkada``, Bukan Rutinitas
Praktik-praktik “pembajakan” dan memperkeruh kolam demokrasi itulah yang harus diakhiri. Kalau tidak, bangsa ini akan berjalan terengah-engah, kehabisan energi dan dibawa entah kemana oleh segelintir elite, secara periodik.
Kondisi ini semakin tidak sehat dan terjebak karena rakyat kian lelah dan jenuh, banal, serta tidak peduli, apatis dan tak bertenaga, lalu bergumam pasrah, “mau gimana lagi…”.
Disinilah pentingnya kemauan dan langkah politik yang tepat, obat yang sesuai, serta “dokter politik” yang merangkap negarawan. Segera, sebelum terjebak semakin jauh dan tidak tahu dimana arah putar baliknya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 1 Desember 2024 dengan judul "Kejenuhan Politik Atau Demokrasi?"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.