RM.id Rakyat Merdeka - Hasto Kristiyanto tidak ditahan. Ada yang kaget, ada yang biasa saja. Sebelumnya, ada juga yang bertaruh: Hasto akan mengenakan rompi orange atau tidak. Nyatanya tidak. Seusai diperiksa KPK, Hasto pulang.
Kasus, fakta dan materinya sendiri tetap sama. Relatif tidak ada yang berubah, dari empat tahun lalu sejak Harun Masiku menghilang. Yang berubah hanya “gaya mainnya” serta “posisi politiknya”. Atau, bisa juga “kepentingannya”.
Apakah KPK belum siap dan butuh pendalaman lebih jauh? Atau, kasusnya “sumir” dan belum jelas, walau KPK sudah menggeledah dua lokasi kediaman Sekjen PDIP tersebut dengan heboh. Atau, bola tidak sepenuhnya berada di ujung sepatu KPK?
Atau, ini yang kemarin banyak beredar: ada nego-nego tingkat tinggi. Bah kan kabarnya, ada yang telepon teleponan sebelum Hasto diperiksa, dan anginnya berembus sampai ke Gedung KPK.
Baca juga : “Viral” Yang Kian Powerful
Untuk kasus bernuansa politis seperti ini, wajar kalau ada dugaan bahwa ini menjadui atensi level atas. Karena, dam paknya bisa mempengaruhi konstelasi dan peta politik nasional.
PDIP misalnya menyebut tidak akan beroposisi terhadap pemerintahan Prabowo (Gibran), namun, juga tidak akan memasukkan kadernya sebagai menteri. Permainan cantik. Ayunan yang sulit ditebak.
Kasus heboh ini sebenarnya cukup “sederhana”. Nilainya bahkan kalah jauh dibanding kasus timah Rp300 triliun, atau kasus megakorupsi lainnya. Namun, nilai politisnya tinggi.
Selama empat tahun, kasus ini seperti tiarap. Sekarang, bangkit lagi. Mana yang benar secara hukum, periode em pat tahun ketika kasusnya “adem ayem” saja, atau periode sekarang, ketika kasusnya digelar.
Baca juga : Sentilan Untuk Perbaikan
Di antara dua periode tersebut, materi dan fakta hukumnya relatif sama. Apa, siapa, dimana dan kapannya, serta konstruksi hukumnya tidak jauh berubah.
Sama juga seperti materi dan fakta “kasus” yang diklaim pihak Hasto sudah dipegang dan disebut melibatkan nama-nama besar, serta dinotariskan di Rusia. Tetap. Tidak berubah. “Kasuskasus misterius” itu tetaplah kasus hukum.
Hastonya sendiri sudah siap kalau ditahan KPK. Eh, ternyata KPK tidak menahannya. Ada yang senang. Ada yang kecewa. Sementara Dewi Keadilan yang matanya tertutup, tetap berdiri tegak. Dia tidak senang atau kecewa. Lurus saja. Timbangan di tangan kirinya, tetap seimbang. Pedang di tangan kanannya, tak bergerak.
Apakah dia bingung bercampur sedih ketika Dewi dari Yunani itu, dibawa dan dipajang di Indonesia? Atau, dia tidak kaget lagi karena sudah “beradaptasi” dan berbaur dengan “kearifan lokal”?
Baca juga : Biarkan Rakyat Tetap Tersenyum
Sembari menyimak kasus-kasus lainnya, kita lihat dan tunggu hasil akhirnya. Kasus Hasto ini masih menarik. Masih misteri: kemana Dewi Keadilan akan mengayunkan pedangnya. Atau, sang Dewi akan diam saja dengan mata tertutup sembari bergumam, “Duh Indonesia!”?
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.