RM.id Rakyat Merdeka - Tidak ada pagar yang lebih popular dibanding pagar laut di Tangerang, Banten. Presiden Prabowo sampai “turun langsung” mengurus pagar laut “misterius” tersebut.
Pagar sepanjang 30 km itu, kemarin, atas perintah Presiden, sudah mulai dibongkar oleh TNI AL bersama warga.
Tugas berat memang menghadang Presiden Prabowo di awal-awal masa jabatannya. Selain urusan pagar laut, Presiden juga sempat menyentil soal hukuman 6,5 tahun yang dinilai tidak sebanding dengan kasus korupsi tata niaga timah senilai Rp 300 triliun. “Hukumannya, 50 tahunlah,” kata Presiden.
Baca juga : Etika Pejabat Ibarat Akar
Lewat beberapa pejabat Istana, Presiden juga menyoroti kasus Gus Miftah dan penjual es teh, kasus mobil dinas RI 36 yang dinilai arogan saat menembus kemacetan Jakarta.
Presiden juga turun tangan soal polemik seorang petugas Damkar di Depok dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan (DPKP) Depok.
Selain mengurus kasus-kasus di “lapangan”, Presiden juga dihadapkan dengan isu-isu politik, seperti menimbang rasa saat “menengahi” dan berdiri di antara dinamika hubungan antara dua mantan Presiden, Jokowi dan Megawati.
Baca juga : Dewi Keadilan: Senang, Kecewa
Kita berharap, di seratus hari pertama, Presiden Prabowo bisa menyelesaikan urusan-urusan “lapangan” tersebut, sehingga tak perlu lagi turun langsung.
Selanjutnya, Presiden bisa menggambar dan menyeting peta jalan strategis bagi Indonesia, setidaknya, peta lima tahun ke depan.
Persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, terutama oleh lembaga-lembaga hukum, serta persoalan lainnya, membutuhkan peta jalan yang jelas, fokus dan terarah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.