Sebelumnya
Bahkan, ada kasus seorang pegawai Mahkamah Agung yang diduga sebagai makelar kasus senilai hampir satu triliun rupiah, tetap menyisakan tanya. Apakah kasus besar ini hanya sekadar berstatus “kasus besar dan heboh” dan tidak menghasilkan perbaikan sistem serta kelembagaan? Apakah kasus ini hanya menghasilkan “oknum”?
Penyebutan pelaku sebagai “oknum” bisa mengecilkan nilai serta dampak kasus tersebut. Juga bisa melemahkan semangat untuk melakukan perbaikan secara keseluruhan dan sistematis. Karena, dalihnya, ini hanya oknum.
Baca juga : Banjir Lagi, Ditunggu Aksinya
Akibatnya, yang diselesaikan hanya kasus per kasus (itu pun tidak menyentuh semuanya). Yang dibereskan hanya oknumnya saja. Bukan sistemnya.
Karena sistemnya tidak diperbaiki, maka sangat mungkin pola atau kasusnya akan kembali terulang. Begitu saja terus.
Baca juga : Negeri Siaga Bencana
Sampai rakyat lupa lagi, kemudian lahir lagi oknum berikutnya. “Hangat-hangat tahi ayam lagi”, kemudian pelan-pelan menghilang. Begitu saja.
Kita berharap, penanganan masalah banjir tidak seperti itu. Tidak kasus per kasus. Tidak hangat-hangat tahi ayam, tapi digas pol. Sampai tuntas. Secara sistematis dan koordinatif.
Baca juga : Cambuk Klasemen “Liga Korupsi”
Kalau pun rakyat cepat lupa, dan banjir sudah surut, para pejabat jangan ikut-ikutan lupa atau surut. Jangan hangat-hangat tahi ayam. Tuntaskan. Segera.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 9 Maret 2025 dengan judul "Melupakan Banjir Dan Oknum"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.