BREAKING NEWS
 

Elite yang Lupa

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 20 Agustus 2025 06:08 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Republik ini tak kekurangan pemimpin. Tapi, ia makin langka dari yang disebut teladan. Di layar televisi dan linimasa media sosial, kita menyaksikan para elite tampil dengan jas rapi, pidato mengalir, dan bahasa lunak penuh metafora. Tapi, di balik itu, yang makin nyata adalah retaknya etika publik. Kekuasaan dijalankan dengan gaya, bukan tanggung jawab. Kepemimpinan berubah menjadi panggung citra, bukan pengabdian.

Baru-baru ini, publik kembali dibuat geram dengan gaya hidup pejabat yang memamerkan kendaraan mewah, koleksi jam tangan, dan pesta ulang tahun anak dengan bintang hiburan nasional. Padahal, di waktu yang sama, laporan dari Bank Dunia menyebutkan bahwa 41 persen pekerja Indonesia masih hidup di bawah standar upah layak, dan jutaan warga mengandalkan utang konsumtif untuk biaya sekolah dan beras. Ini bukan sekadar ironi. Ini pengkhianatan moral.

Baca juga : Rakyat yang Terpisah

Mochtar Lubis dalam pidatonya tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki pernah menyebut, salah satu ciri manusia Indonesia adalah “munafik” dan “enggan bertanggung jawab”. Lima dekade lebih berlalu, tapi kalimat itu justru makin relevan. Banyak elite hari ini tampil seolah religius, nasionalis, dan Pancasilais, tapi laku hidupnya jauh dari nilai-nilai itu. Ketika adab dikalahkan oleh ambisi, maka jabatan hanyalah kostum dalam panggung oportunisme.

Adsense

Yang paling menyedihkan, masyarakat mulai terbiasa. Ketika skandal disambut tawa, ketika arogansi dibungkus “gaya komunikasi milenial”, ketika kritik dianggap baper, maka kita sedang meluncur pelan-pelan ke dalam kelumpuhan etik. Demokrasi tidak mati karena kudeta. Ia perlahan hancur ketika rasa malu hilang dari ruang kekuasaan.

Baca juga : Janji yang Tertunda

Dalam The Ethics of Authenticity (Charles Taylor, 1991), dijelaskan bahwa krisis modern bukan pada kehilangan nilai, tapi pada banalitas nilai. Kita tetap bicara integritas, empati, dan pelayanan publik—tapi tak benar-benar menghayatinya. Elite sibuk merancang “legacy”, tapi lupa menjaga laku hidup yang bersih. Mereka ingin dikenang, tapi enggan dibimbing oleh rasa batin bahwa jabatan adalah beban tanggung jawab, bukan sekadar panggung kehormatan.

Rakyat makin jeli menilai. Kepercayaan publik bukan dibangun lewat baliho atau influencer, tapi dari sikap sehari-hari: bagaimana seorang pejabat hidup, berbicara, mendengar, dan bersikap saat tak sedang disorot kamera. Jika elite hanya tampil saat rapat dan upacara, lalu menghilang saat rakyat kesulitan, maka sesungguhnya merekalah yang sedang memudarkan makna republik.

Baca juga : Sidang yang Sunyi

Negara tak bisa terus bertahan dengan sistem yang bagus tapi aktor yang hampa nilai. Jika elite terus lupa siapa yang mereka wakili, maka rakyat akan berhenti mempercayai sistem itu sendiri. Dan ketika kepercayaan runtuh, yang tersisa hanyalah kekuasaan yang berjalan tanpa legitimasi—tanpa arah, tanpa jiwa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense