RM.id Rakyat Merdeka - Kita selalu bangga menyebut diri sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Setiap lima tahun, rakyat berduyun-duyun ke TPS. Pemilu berjalan damai. Angka partisipasi membanggakan. Tapi setelah itu, demokrasi seperti kehilangan rohnya. Yang tersisa hanyalah prosedur. Spiritnya hilang di tengah riuh amplop, buzzer, dan kompromi politik yang membungkam kritik.
Pasca-pemilu, oposisi mengecil. Ruang publik dipenuhi narasi tunggal. Parlemen menjadi stempel, bukan penyeimbang. Kita seolah lupa bahwa demokrasi bukan hanya tentang menang-kalah, tapi tentang menjaga ruang perbedaan. Demokrasi membutuhkan ketegangan sehat—antara pemerintah yang memerintah dan publik yang berani bertanya.
Laporan Freedom House (2025) menurunkan skor kebebasan Indonesia menjadi 58/100, menandai penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Jika demokrasi hanya diukur dari keberadaan pemilu, maka bahkan negara-negara otoriter pun bisa mengklaim diri demokratis.
Dalam situasi ini, media sosial seolah menjadi satu-satunya tempat berteriak. Tapi, di sana pun, algoritma dan polarisasi menciptakan ilusi suara. Orang berseru, tapi tidak didengar. Kritik dibalas pelaporan. Satire ditafsir subversif. Kita terjebak dalam demokrasi yang dangkal, yang hanya menerima suara selama tidak mengusik kenyamanan kekuasaan.
Demokrasi yang sehat menuntut tiga hal: partisipasi aktif, oposisi yang kuat, dan pemimpin yang siap dikritik. Tapi yang kini tumbuh justru loyalitas buta, dan kultus figur. Dalam atmosfer seperti itu, kebenaran menjadi relatif, dan keadilan dikalahkan oleh kedekatan.
Demokrasi yang tumpul tak sekadar gagal melindungi warga. Ia juga membentuk warga yang apatis. Jika semua aspirasi dibentur tembok diam, maka rakyat akan mencari jalan sendiri: entah dalam sikap sinis, golput berjamaah, atau perlawanan diam-diam. Ini bukan ancaman, tapi alarm.
Baca juga : Rakyat yang Terpisah
Negara ini tak kekurangan pemilih. Tapi ia makin kekurangan pendengar. Demokrasi yang tak mau mendengar pelan-pelan berubah menjadi otoritarianisme yang manis di mulut, tapi kejam di tindakan. Dan jika itu terus dibiarkan, maka demokrasi bukan sedang tumbuh, melainkan mati perlahan—dengan penuh seremoni.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.