Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Delapan puluh tahun adalah usia yang matang bagi sebuah bangsa. Ia mestinya bukan hanya usia, tapi waktu yang cukup untuk menepati janji. Namun di usia delapan dekade Republik Indonesia, pertanyaan yang terus bergema di lorong-lorong rakyat masih sama: kemerdekaan ini sesungguhnya milik siapa?
Narasi resmi negara dipenuhi angka dan prestasi. Ekonomi tumbuh stabil, infrastruktur berkembang, daya saing meningkat. Tapi di balik angka itu, masih ada realitas yang lebih diam: petani yang kehilangan lahan, buruh yang kehilangan posisi tawar, nelayan yang kehilangan lautnya, dan warga miskin kota yang makin terpinggirkan oleh harga dan ruang. Negara terus tumbuh, tapi tidak semua orang ikut bertumbuh bersama.
Setiap tahun, kita mengulang kisah para pahlawan dengan khidmat. Tapi terlalu jarang kita bertanya: apakah semangat mereka masih hidup dalam sistem kita hari ini? Cita-cita keadilan sosial seperti tetap menjadi bab terakhir dalam buku pelajaran, bukan prinsip pertama dalam kebijakan negara. Laporan lembaga riset internasional masih menempatkan Indonesia di zona merah ketimpangan pendapatan dan akses layanan dasar—terutama di wilayah-wilayah timur.
Kemerdekaan tidak akan lengkap jika hanya dirasakan oleh kelas menengah yang terhubung dengan teknologi, tinggal di pusat kota, dan punya akses ke sumber daya. Republik ini tidak dibangun untuk yang kuat saja. Dalam Pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan: "Negara Indonesia bukan milik satu orang, bukan milik satu golongan, tapi milik kita semua". Delapan puluh tahun berselang, semangat ini mulai terdengar samar di ruang-ruang kebijakan.
Kita telah melewati banyak hal: pemberontakan, krisis moneter, reformasi, pandemi, bahkan polarisasi politik ekstrem. Tapi apakah itu membuat republik ini makin adil, atau justru makin bias terhadap yang bersuara keras? Di banyak negara, usia 80 adalah fase kontemplatif. Di Indonesia, usia ini justru diuji oleh percepatan tanpa pematangan. Kita cepat bergerak, tapi apakah kita tahu ke mana hendak pergi?
Tentu bangsa ini punya capaian yang layak dibanggakan. Tapi kita juga harus punya keberanian untuk mengakui hal-hal yang tertunda dan keliru. Bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu bercermin. Kita tak bisa terus-menerus menumpuk euforia kemerdekaan sambil mengabaikan kesenjangan yang makin lebar. Kemerdekaan sejati adalah ketika negara hadir bukan hanya di pidato, tapi di dapur rakyat.
Baca juga : Wajah Sebuah Kuasa
Delapan puluh tahun republik adalah momen untuk tidak lagi pura-pura. Tidak cukup hanya menggelar upacara, melainkan membuka kembali lembaran dasar: untuk apa bangsa ini didirikan? Jika jawabannya masih sama seperti 1945—yakni kemerdekaan yang adil dan merata—maka pekerjaan kita belum selesai. Perayaan baru bermakna jika janji ikut ditepati.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.