RM.id Rakyat Merdeka - Setelah 21 tahun, tiang monorel yang “menghiasi” jalanan Jakarta, akan dibongkar. Proyek besar yang tak pernah selesai, menjadikannya simbol kegagalan. Salah satu pelajarannya: visi besar tanpa eksekusi yang matang hanya akan meninggalkan sampah proyek yang tak mudah dilupakan.
Inilah kenapa visi, prioritas, dan paradigma seorang pemimpin menjadi sangat penting. Contoh lainnya: Sri Mulyani dan Purbaya.
Kita tidak berbicara mana yang terbaik. Tapi, dua orang Menteri Keuangan ini memiliki mazhab ekonomi yang berbeda. Perbedaan ini terlihat dari keputusan, prioritas serta kebijakan yang diambil.
Kalau istri, katakanlah sebagai “menteri keuangan” di rumah, salah prioritas, misalnya lebih mendahulukan tas Hermes dibanding sepuluh kilogram beras, maka yang terdampak hanya satu rumah tangga.
Baca juga : Antara Rambut Dan Kursi
Tapi, kalau pemimpin atau menteri yang salah langkah, salah kebijakan serta salah prioritas, puluhan bahkan ratusan juta orang bisa terdampak.
Inilah pentingnya seorang pemimpin memiliki visi realistis dengan eksekusi yang baik, cermat, matang dan terukur.
Kalau diibaratkan rumahtangga: “jangan terlalu bersemangat membeli rice cooker canggih, tapi berasnya belum dibeli”. Bahwa teknologi itu penting, iya. Betul. Tapi, kebutuhan dasarnya harus terpenuhi terlebih dahulu.
Tiang monorel yang mau dibongkar itu misalnya, apakah kita ingin dan butuh? Iya. Pasti. Siapa sih yang tidak ingin ada perbaikan lalulintas di Jakarta yang sudah sangat macet ini.
Baca juga : Revolusi “John Wayne of Finance”
Tapi, jangan hari ini mau, hari ini langsung jadi. Ada pertanyaan yang per- lu diajukan: apakah perlunya sekarang atau nanti? Nantinya, setahun, dua tahun atau sepuluh tahun lagi? Atau, adakah alternatif lain disertai kalkulasinya.
Itulah yang oleh para ahli disebut “skala prioritas”. Ada uruturutan tingkat kebutuhan dan urgensinya.
Misalnya, apakah perlu membeli motor sport kelas sirkuit untuk dipakai kerja ke sawah supaya lebih semangat? Memang terlihat wah. Keren. Tapi, kalau jalan yang dilewati masih becek dan rusak, atau jembatannya tidak ada, apakah cocok dan menjadi prioritas?
Jangan sampai, misalnya, kita terlalu bersemangat mengejar teknologi canggih, tapi anak-anak berangkat sekolah dengan perut keroncongan, lalu harus melewati jalan atau jembatan yang rusak untuk sampai ke sekolah yang bangunannya tidak layak. Di sisi inilah program MBG dan sekolah rakyat menjadi sangat krusial.
Baca juga : “Sistem Antibocor Super Sensitif”
Keinginan untuk maju bersama teknologi canggih, memang sahsah saja. Tetapi perlu dasar yang kokoh, terutama kebutuhan dasar rakyat. Jangan terjebak dalam euforia teknologi, sementara kebutuhan dasar rakyat diabaikan.
Jalan tengahnya: keseimbangan. Realistis. Cermat. Keinginan tampil canggih, boleh. Pemenuhan kebutuhan dasar, juga penting. Bisa jalan beriringan. Bukan saling meninggalkan.
Di sinilah pentingnya visi besar seorang pemimpin atau menteri dengan eksekusi yang matang, cermat, tepat sasaran, tetap waktu dan tepat prioritas.
Sekarang, cukuplah tiang monorel yang menjadi pelajaran sangat mahal. Jangan lagi ada yang lain. Apalagi dengan “taruhan” yang sangat besar dan lama. Jangan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.