Dark/Light Mode

Tepuk Tangan Untuk Superhero?

Kamis, 9 Oktober 2025 06:30 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - “Kejagung-Polri-KPK Ngegas Usut Korupsi, Koruptor Ketar-ketir”. Begitu judul berita di halaman depan Rakyat MerdekaRakyat, Rabu (8/10/25).

Ini fenomena menarik. Kalau ketiga lembaga ini bisa bersinergi, solid, konsisten dan berkesinambungan, sungguh luar biasa. Seperti trio superhero yang sedang on fire. Mereka bukan hanya membuat koruptor ketar-ketir, tapi bisa menyehatkan sistem.

Ketiga lembaga ini memang perlu dikomando serta diorkestrasi dengan baik dan disiplin. Kita sebagai rakyat dan penonton, tentu menyambut baik

Tapi apakah kita lantas bertepuk tangan dengan wajah cerah ceria? Kita lihat dulu hasilnya. Kalau bisa konsisten, berkesinambungan, solid serta bisa melakukan joint investigation untuk membongkar kasus-kasus besar, tanpa pandang bulu, bolehlah kita bersiap untuk tepuk tangan.

Untuk saat ini, setidaknya kita bisa melihat ada dinamika positif. Kejaksaan Agung misalnya, sudah berhasil membongkar banyak kasus korupsi dengan kerugian negara yang super jumbo. Misalnya, ada kasus yang nilainya sampai Rp300 triliun.

Baca juga : Jangan Abaikan Tragedi Ini

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, juga berhasil diproses.

Walaupun, harus diakui, ada beberapa nama yang sempat terseret kasus korupsi, tapi kemudian meredup di Kejagung.

KPK tak kalah dinamisnya. Lembaga yang dulunya garang ini, sekarang tampak seperti saudara sepupu yang kembali diajak kumpul keluarga. KPK antara lain sedang menggarap kasus kuota haji dan kredit ekspor. Beberapa nama besar, termasuk menteri, juga diproses.

Polri, tak mau ketinggalan. Mereka sekarang antara lain menyeriusi kasus korupsi proyek PLTU 1 Kalimantan Barat. Proyek senilai 1,3 triliun ini menyeret mantan Dirut PLN dan adik mantan wapres.

Dari sini, kita bisa mulai berharap. Mungkinkah ini saatnya semua lembaga bergerak senada seirama, sinergis, penuh energi, dalam memberantas korupsi? Tentu saja, kita ingin sangat mempercayainya. Tapi percaya saja tidak cukup.

Baca juga : Siapa Yang Dipercaya?

Sebab, tantangannya bukan sekadar menjerat satu atau dua orang. Atau membongkar beberapa kasus. Bukan sekadar itu. Tantangannya adalah mem perbaiki struktur. Perbaikan sistemik.

Koordinasi antarlembaga jangan lagi seperti lomba tarik tambang, kadang penuh semangat, kadang saling menjegal. Tarik ulur.

Intervensi politik juga masih men jadi tantangan berat. Fenomena ini mengintai seperti asap rokok di ruangan tertutup. Samar, tapi bisa membuat sesak. Pengap.

Karena itulah, orkestrasi semua lembaga hukum oleh Presiden Prabowo, perlu menjadi langkah awal untuk memperbaiki sistem. Secara nasional, diperkuat dan diperluas sampai ke daerah. Karena, korupsikorupsi di daerah tak kalah ganasnya.

Pada akhirnya, kita tentu harus melihat indikator keberhasilannya. Karena, seberapa pun hebatnya sebuah kolaborasi, ujung-ujungnya harus ada indikatornya. Ada hasilnya. Konkret.

Baca juga : Korupsi Dan Demam Berdarah

Kita tentu tidak hanya ingin melihat berapa jumlah tersangkanya, tapi berapa jumlah rupiah yang kembali ke rakyat.

Selain itu: apakah hukum bisa menindak mereka yang selama ini tak tersentuh? Dari situ kita akan melihat, apakah indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia bisa membaik. Apakah ke percayaan rakyat bisa kembali menguat.

Kalau berhasil, bolehlah kita bertepuk tangan sambil berdiri. Standing ovation. Namun, tetap disertai sikap siaga: setengah waspada. Karena, semangat terkadang bisa naikturun. Seperti gelombang. Tergantung cuaca dan arah angin. Tapi, sejauh ini, okelah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.