Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo terkejut melihat gunungan uang sitaan Rp13,25 triliun dari kasus korupsi minyak goreng. Apalagi kita, rakyat. Membayangkannya saja, pusing. Bahkan bisa meriang.
Saking banyaknya uang hasil sitaan yang diperlihatkan Kejagung tersebut, bentukannya seperti bata yang disusun rapi. Tinggi sekali. Bisa membangun rumah tipe 21 dengan luas tanah 60 meter. Bukan dari bata. Tapi dari uang kertas.
Kalau menurut hitungan Presiden Prabowo, uang sebanyak itu bisa mem perbaiki 8.000 sekolah. Atau, bisa membangun 600 kampung nelayan dengan fasilitas yang baik.
Bayangkan, itu baru satu kasus di sektor sawit! Berapa banyak lagi dana yang bocor di sektor lain. Potensi dana yang seharusnya bisa membangun rumah sakit, puskesmas, jembatan, dan laboratorium serta sektor kerakyatan lainnya. Kalau… tidak bocor.
Fakta ini menjadi tamparan keras. Wajar jika Presiden Prabowo berkali- kali mengungkapkan kegeramannya terhadap praktik korupsi.
Melihat kasus-kasus korupsi yang sangat luar biasa, apalagi kalau di konversi dengan sekolah atau rumah sakit, ini bukan sekadar pelanggaran hu kum. Ini adalah perampasan sistematis terhadap hak rakyat untuk mendapatkan fasilitas publik yang layak.
Kita berharap, pengungkapan kasus-kasus besar tidak berhenti. Tidak masuk angin. Tapi, harus terus digas. Konsistensinya harus dijaga. Jangan sampai semangat ini hanya “anget- anget tai ayam”, hangatnya hanya di awal, lalu dingin dan terlupakan.
Inilah mengapa kita butuh pembe- rantasan korupsi berbasis sistem. Bukan bergantung figur yang masa jabatannya terbatas. Kita butuh perbaikan struktural. Kita butuh sistem hukum, pengawasan, dan birokrasi yang tegas, konsisten, berkesinambungan serta tidak pandang bulu.
Baca juga : Pentingnya Sensitivitas
Kita berharap, pengungkapan kasus megakorupsi ini adalah awal dari perbaikan sistemik. Banyaknya kasus yang diungkap harus berujung pada perbaikan sistem. Bukan hanya mengungkap atau membongkar.
Jika sistem dan strukturnya sudah kuat, ia akan berjalan sendiri, otomatis, lepas dari selera atau kepentingan pribadi siapa pun.
Presiden Prabowo dengan tekadnya yang kuat dan sering disampaikan dalam berbagai kesempatan, memiliki peluang emas untuk meninggalkan warisan (legacy) luar biasa: sistem yang antibocor. Sistem dengan radar kuat super sensitif, yang bahkan tikus lewat sambil melirik brankas pun, bisa terdeteksi.
Kita berharap: bukan hanya gunungan uang Rp13,25 triliun yang bisa diselamatkan. Bukan pula beberapa kasus besar saja yang diungkap. Kita butuh, kebocoran APBN yang menurut maestro ekonomi Prof Sumitro Djojohadikusumo mencapai 30 persen, bisa disumbat optimal.
Baca juga : “Lari Ke Rumah Orang Tua”
Kita menunggu “wasiat” penting yang sudah diungkapkan puluhan tahun lalu itu, bisa dilaksanakan. Dengan sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.