Dark/Light Mode

Koboi Baru: Cinta Dan Ancaman

Minggu, 12 Oktober 2025 06:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini rekor. Baru sebulan menjabat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung memanen julukan dan apresiasi. Dia jadi bahan obrolan dari warung kopi sampai ruang rapat eksekutif. Ada yang menyebutnya “Purbaya Effect”, “Purbayanomics” dan sebagainya. Macam-macam. Yang paling politis: Purbaya Wapres.

Popularitasnya memang melesat seperti koboi yang menjelma menjadi bintang pop modern. Dia dicintai. Bahkan dianggap seperti GPS yang bisa menunjukkan jalan keluar dari krisis.

Gaya dan mazhab ekonomi Purbaya yang berbeda jauh dari pendahulunya, disambut seperti pizza hangat yang baru keluar dari oven. Pernyataannya yang lugas, seperti “saya hanya bertanggungjawab ke RI-1, yang lain saya enggak peduli”, memberi kesan kuat, berani dan politis.

Baca juga : Tepuk Tangan Untuk Superhero?

Pernyataan ini menunjukkan ada banyak tangan lain yang berkuasa selain Presiden. Dan, dia sanggup menembak tangan-tangan kuat itu. Dengan modal awal tersebut, mampukah dia mengikuti jejak Boediono, seorang ekonom yang akhirnya menduduki kursi Wapres di era SBY?

Sebelum menjawabnya, kita perlu mengajukan pertanyaan: apakah popularitas Purbaya lebih karena “emosi” atau “persepsi”? Mampukah dia mempertahankan popularitas ini dan memberikan hasil nyata dalam jangka panjang? Kuatkah dia menjaga iman politiknya dari godaan pihak-pihak tertentu yang ingin “mengijon” dirinya?

Pertanyaan lain: mampukah dia menyeimbangkan program serta ambisi ekonomi pemerintah dengan harapan publik yang semakin tinggi? Apa pun jawabannya, pada akhirnya semua harus beradaptasi dengan realitas politik Indonesia yang sulit ditebak. Realita yang biasanya memanas dan bergerak liar di injury time. Bukan di awal.

Baca juga : Jangan Abaikan Tragedi Ini

Dalam realita ini, seorang tokoh yang dieluelukan, dalam sekejap bisa tiba-tiba menjadi pahlawan kesepian yang ditinggalkan zaman. Dan perlu diingat, tentu ada banyak koboi lain yang siap mengokang senapan politik mereka ke arah Purbaya. Dia bisa jadi sasaran tembak.

Apa pun realitanya, sebagai seorang ekonom yang tampak “nonpartisan” dan memiliki citra Jawa Barat yang kuat, Purbaya sangat bisa menjadi primadona baru di Pilpres 2029. Terutama untuk posisi wapres. Ketika ditanya hal ini, Purbaya menjawab santai, “baru sebulan kerja, gila lu. Nggak mikir sama sekali”.

Dari jawaban ini, sepertinya aura politik pelan-pelan mulai masuk. Jawaban a la politisi ini sudah sering kita dengar dan sangat bisa dilanggar. Di arena koboi politik “pagi ke kiri, sore ke kanan” seperti di Indonesia, kita hanya bisa bertanya: apakah Purbaya akan menjadi the last man standing, koboi terakhir yang bertahan sampai akhir?

Baca juga : Siapa Yang Dipercaya?

Kalau ditanya sekarang: sepertinya dia mampu dan punya peluang. Tapi ini bukan sprint 100 meter. Ini marathon politik yang panjang. Garis finishnya masih jauh. Masih banyak tikungan, jebakan dan ancamannya. Termasuk yang mengintai dan siap menyalip di tikungan.

Tapi, setidaknya, dia sudah berjalan menuju garis start. Sekarang tinggal validasi, yakni hasil konkretnya. Kinerjanya. Bukan sekadar dicintai, tapi juga bermakna. Kita lihat sebulan, setahun atau dua-tiga tahun ke depan. Menarik ditunggu, seperti film koboi yang menegangkan, ketika sang jagoan harus menghadapi duel terakhir di jalanan berdebu di sebuah kota kecil.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 12 Oktober 2025 dengan judul "Koboi Baru: Cinta Dan Ancaman"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.