Dark/Light Mode

Revolusi “John Wayne of Finance”

Kamis, 23 Oktober 2025 05:45 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Bersih-bersih besar-besaran”. Begitu deklarasi yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Targetnya, “mafia” di berbagai sektor. Juga para aparat di lapangan. Termasuk siapa pun yang membekingi mereka.

Deklarasi ini bukan main-main. Menurut Purbaya, nama-nama mereka sudah dikantongi. “Tinggal pilih siapa yang mau kita proses,” tegasnya.

Yang perlu dipastikan: ini bukan sekadar slogan. Atau kampanye. Dan, kalau ini berjalan dengan baik, jangan “anget-anget tai ayam”, panasnya cuma sebentar lalu perlahan-lahan mendingin.

Sejauh ini, “tanda-tanda” seperti itu, tidak, atau belum terlihat. Terbukti, kemarin, pagi-pagi, Purbaya sudah berada di Kantor Pusat Dirjen Bea dan Cukai. Dia melakukan sidak. Inspeksi mendadak. Tujuannya untuk menilai sistem pengawasan di institusi tersebut.

Baca juga : “Sistem Antibocor Super Sensitif”

Kita berharap, gebrakan-gebrakan yang dilakukan Purbaya bisa terjaga konsistensinya. Berkesinambungan. Staminanya kuat seperti pelari marathon. Karena, sidak, atau bahkan peringatan keras, bukan hanya dilakukan sekarang-sekarang. Sudah sering. Bahkan oleh Presiden sebelumnya. Namun, hasilnya, seperti yang kita saksikan sekarang.

Salah satu yang paling dibutuhkan saat ini adalah reformasi teknologi. Digitalisasi. Transparansi. IT yang lebih canggih. Itulah yang antara lain kekurangan yang dilihat Purbaya saat sidak ke Bea Cukai, kemarin.

Namun, teknologi secanggih apa pun, tanpa komitmen kuat serta sistem yang baik, akan sia­sia. Kalau budaya birokrasinya masih “begitu- begitu saja”, hasilnya juga akan “begitu­begitu saja”.

Kalau “begitu­-begitu saja”, menteri keuangan Indonesia Emas 2045 juga akan melakukan hal yang sama. Mengulang, melakukan sidak juga. Bersih­-bersih lagi. Karena, saat itu, belum beres­-beres juga.

Baca juga : “Trilogi Utang”

Karena itu, “bersih-­bersih ­besar- besaran” ini harus didukung semua pihak. Perlu diorkestrasi dengan baik dan solid. Sehingga, semua celah kebocoran bisa disumbat. Secara sistematis dan bisa dilaksanakan oleh siapa pun, kapan pun. Termasuk di era Indonesia Emas 2045.

Kita tunggu aksi “the financial avenger” Purbaya. Apalagi dia berjanji akan memproses siapa pun, termasuk “nama-­nama besar”. Entah sebesar apa, kita tunggu.

Karenanya, komitmen luar biasa ini perlu didukung proses hukum yang cepat, berkeadilan dan transparan. Inilah pentingnya, koordinasi atau “orkestrasi” tadi. Sehingga, tidak jalan sendiri­-sendiri.

Namun, seperti sebuah peperangan, ini bukanlah sesuatu yang bisa dimenangi atau diselesaikan dalam semalam.

Baca juga : Pentingnya Sensitivitas

Karena itu, dukungan kuat yang diberikan Presiden Prabowo perlu dipastikan bisa mengalir cepat sampai ke lapangan, lewat aksi­aksi yang benar­-benar serius.

Karena ini kerjasama menjadi sangat penting. Termasuk dari rekan- rekan Purbaya di kabinet. Di semua Kementerian. Dengan demikian, tercipta “sistem anti bocor” nasional.

Kalau tidak, bangsa ini seperti membersihkan kebun dengan hanya memangkas rantingnya. Di luar terlihat rapi, tetapi akar­akarnya tetap terbiarkan merusak dari bawah.

Kita berharap, dari aksi bersih- bersih ini bukan hanya menyaksikan aksi “John Wayne of Finance” tapi juga suatu “gerakan revolusi ekonomi” yang terbaik bagi bangsa ini. Menarik ditunggu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.