Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika dua orang pejabat berselisih data atau berbeda perspektif, siapa yang bisa dipercaya?
Ada yang mencermati datanya. Kritis. Datanya dibandingkan secara obyektif. Substansinya dilihat, siapa yang benar. Tapi, terkadang, ada pejabat atau tokoh yang rasanya lebih “nyaman” untuk dipercaya tanpa melihat substansinya atau benar salahnya.
Kita ambil contoh yang jauh: dua Presiden AS, Barack Obama dan Donald Trump. Ada kecenderungan, publik internasional memandang Obama lebih positif dan kharismatik, meskipun beberapa kebijakan luar negerinya kontroversial.
Sementara Trump, dengan gaya bicaranya yang agresif dan “semau gue” serta kebijakan kontroversinya, membuat sebagian publik tidak nyaman. Bahkan tidak mempercayai serta membencinya.
Di Indonesia, juga demikian. Dulu, ada menteri yang cenderung dipercaya publik. Ketika berbeda pendapat dengan tokoh-tokoh politik di legislatif atau di Kementerian lain, dia tetap lebih dipercaya.
Baca juga : Korupsi Dan Demam Berdarah
Padahal, banyak juga kritik terhadap kebijakannya. Kebijakan yang dianggap tidak memihak rakyat. Namun, dia tetap mendapat dukungan luas. Antara lain karena ada persepsi lebih “kompeten cerdas dan tegas”.
Di dunia politik atau pemerintahan, kita sering kedatangan tokoh-tokoh seperti ini. Dianggap membawa angin segar. Publik merasa nyaman. Dia terlihat lebih pro rakyat dan lebih jujur.
Bisa jadi, sebuah bangsa memang merindukan figur seperti itu. Karena, sebelumnya, tidak ada tokoh seperti itu. Dia dianggap membawa angin segar.
Tokoh-tokoh sebelumnya, atau yang masih bercokol, sering kali melukai hati rakyat. Sering ingkar janji dan kerap beretorika sangat politis. Pendatang baru itu menjadi antitesis.
Apakah dia memang bagus? Bisa iya, bisa juga tidak. Bisa jadi, yang lama lebih buruk, lebih parah kredibilitasnya, sehingga figur baru itu terlihat lebih baik, meski belum terbukti sepenuhnya.
Baca juga : “Lempar Kursi, Bibir Bengkak”
Ketika sebuah negara sudah terbiasa dengan “pejabat bermasalah namun tidak tersentuh”, kedatangan figur baru, apalagi dengan rekam jejak yang bersih dan terlihat tidak terlibat politik kotor, tentu menjadi sebuah berkah.
Namun, kondisi seperti ini ada dampaknya. Publik bisa terjebak dalam situasi “taklid buta”. Ikut saja. Senang saja. Tanpa pertimbangan. Tanpa melihat benar salahnya.
Ini berbahaya. Karena, bisa mempengaruhi kesehatan demokrasi. Bisa berdampak terhadap kualitas kebijakan publik yang diambil. Salah atau benar, tetap saja dianggap benar.
Dalam kondisi seperti ini, publik bisa tersandera oleh persepsi dan emosi. Pada persona, citra atau gambaran yang dibentuk. Bukan pada logika, bukti rasional, kebijakan serta kinerjanya.
Karena itu, penting bagi rakyat untuk tetap fokus pada substansi dibanding citra dan sensasi.
Baca juga : Dari Perut Ke Petani Modern
Kembali ke pertanyaan awal: ketika dua orang pejabat berselisih data atau berbeda perspektif, siapa yang kita percayai?
Masing-masing tentu punya jawabannya. Jawaban dengan hati atau logika. Bisa benar, bisa juga salah. Di sinilah pentingnya pembuktian.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 5 Oktober 2025 dengan judul "Siapa Yang Dipercaya?"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.