RM.id Rakyat Merdeka - Kisruh organisasi apa pun, tidak seutuhnya negatif. Ada positifnya juga. Dalam bahasa yang klise, namun terkadang sulit dilaksanakan: selalu ada hikmahnya.
Misalnya, kisruh itu bisa menjadi alarm untuk berbenah. Jadi sarana introspeksi. Jeda untuk kembali menengok ke belakang. Memperbaiki yang salah, melanjutkan yang benar.
Di organisasi apa pun, besar atau kecil, berbasis keagamaan atau bukan, konflik adalah hal lumrah, walau jangan juga dijadikan kebiasaan. Tidak ada or-ganisasi yang benar-benar bebas konflik.
Yang penting, bagaimana konflik itu dikelola secara dewasa, bermartabat dan produktif. Bukan beralaskan kepentingan satu-dua orang. Bukan pula karena urusan personal. Organisasi yang solid dan dewasa, mampu melampaui semua kepentingan sesaat dan jangka pendek.
Baca juga : "Taruhan" 6 Persen
Untuk mencapai tahap itu, dibutuhkan semangat kebersamaan untuk memperbaiki dapur organisasi. Salah satu syaratnya: transparansi. Kalau tidak, dapur organisasi bisa meledak oleh bom waktu yang seringkali tidak terlihat dan tidak disadari.
Selain itu, setiap level kepemimpinan harus bertindak layaknya sopir bus pariwisata. Kalau mengemudi terlalu cepat, penumpang muntah. Kalau terlalu lambat, penumpang protes. Kalau ugal- ugalan, semua turun di tengah jalan. Penumpang keleleran. Berantakan semuanya.
Yang tak kalah pentingnya, semua ormas, yang biasanya menjadi magnet politik, harus bijak dan bisa menjaga jarak dengan politik praktis. Harus bisa menjaga marwah independensinya. Karena politisi cerdas tahu: ketika organisasi sedang goyah, itulah waktu terbaik untuk masuk.
Apalagi menjelang pemilu, politik itu seperti gula: sedikit saja sudah manis. Kalau kebanyakan, lengket. Bahkan, kalau tidak hati-hati, bisa mengakibatkan diabetes organisasi. Dampaknya, sulit kembali ke vitalitas dan performa awal, kepada jati diri.
Baca juga : Mobil Baru, Sopir Baru?
Semua ormas, jati diri dan cita-citanya pasti mulia. Karenanya, jangan lupakan itu. Berdayakanlah anggota atau umat, berantas kemiskinan, tingkatkan pendidikan dan kemampuan anggota.
Apalagi sekarang, tantangannya kian komplek. Tuntutan masyarakat semakin dinamis dan beragam. Isu-isunya pun kian berkembang; lingkungan, supremasi hukum, demokratisasi, pengembangan ekonomi rakyat, minimnya literasi keuangan, perdagangan orang, judol, pinjol dan sebagainya. Sangat banyak dan urgen.
Sisi-sisi itu perlu digarap. Bukan yang lain. Bukan saling lempar piring atau berebut duduk di kursi dapur.
Namun, pada akhirnya, semua ormas pasti menyadari: kekuasaan itu sementara.
Baca juga : Nasi Goreng Di Satu Dapur
Jabatan pun sama, tidak kekal. Yang ribut hari ini, besok-lusa sudah akur lagi saat makan soto bersama.
Yang perlu diingat, ketika duduk bareng di meja itu: reputasi ormas harus dijaga. Karena, dia bisa terombang- ambing, bahkan bisa hilang, kalau tidak dijaga bersama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.